Coffee Culture 6: Coffee with a dash of difference…

Copied from another blogger who is fascinated by coffee… here are a couple of ideas to brighten your potent drink.

ARS0YJECAC8F04MCANTCPGACAATI9KSCA0001EYCA6AWYPFCAOOBV27CAXV86J1CAS5FDH8CA291FYGCASTP263CAN754H7CAHDDQXICALLFC71CAX9E4MLCAT7ZNQTCATBBBFCCAXTWK9A

You might be like me. Someone who cannot leave what’s good enough alone. Coffee is one of those things for me. Rarely can I drink it plain black and rarely plain warm. Want to teach your coffee to jump through hoops? Here are some ideas:

  • Salt your coffee. Either as you are grinding it, or the dairy that accompanies it. Salt enhances sweetness and cloys bitter flavors.
  • Rethink the sweet. When you take your coffee sweet, consider an alternative to standard white sugar. This can be as simple as using brown sugar, a raw sugar, agave nectar, or honey instead. Or as complex as adding maple syrup, bitter caramel sauce, Nước Màu or fruit jam.
  • Give the beans some friends. Next time you grind up coffee beans, consider tossing in one or all of these flavor additions: half a vanilla bean pod, some cocoa nibs, a small sliver of whole nutmeg, orange zest, a cardamom pod, a couple black peppercorns or a nub of cinnamon stick.
  • Steep when you heat. Steeping aromatics in either your pre-brew coffee water or your dairy is a way to get a touch of flavor that is different from grinding flavors with the beans. This could be as simple as making your coffee with peppermint tea or lemon water, or warming your milk with sticks of cinnamon and whole cloves. Who says you have to use plain water to brew your coffee?
  • Bloom your coffee grounds. As one blooms dry gelatin before use, moisten your coffee grounds to help prep them for brewing. How to: Shake out your freshly ground coffee into a mixing bowl and stir in 1-3 Tbs of water. Let sit for ~5 minutes and then scrape into your brewing apparatus. It is thought that premoistening coffee grounds results in a stronger or more flavored brew. Have you wondered about using brandy or bourbon instead of water for this step yet?
  • Take your time. How about a 12 hour brew? Do those words give you caffeine withdrawal? If you add time and subtract the heat, you will have a new coffee experience in your cup.
  • Keep it simple. Sometimes you owe it to your taste buds to take a vacation from your habits and resort to the easiest path: straight black coffee. With the amazing amount of coffee bean varieties and roasts we have access too, there is no excuse for calling straight black coffee boring.
Advertisements

Coffee Culture 5: Kopi Penari Jawa

Baru mengenal Java Dancer Coffee kemarin petang dari Andri Gunawan, salah satu dari empunya/cupper, berikut adalah cuplikan dari publikasi yang telah memuatnya di Malang Raya beberapa saat yang lalu.  Kami dibawakan oleh-oleh kopi Wamena.  Dilain kesempatan kalau lewat atau menginap di Malang, sempatkan untuk mampir.  Pemiliknya memiliki passion terhadap kopi, lebih dari sekedar meraup keuntungan darinya. 

java5[1]

JAVA DANCER COFFEE BIDIK WISATAWAN ASING – oleh Lailatul ROsida/MalangPost

Penggemar kopi di Malang Raya kini bisa menikmati sajian istimewa dari sebuah kafe yang menawarkan kesempurnaan rasa kopi yang disajikan.  Semuanya ada di Java Dancer Coffee.  Kafe yang baru menggelar soft launching pada 15 Desember 2008 alu, menawarkan berbagai jenis kopi yang khas.  Tidak saja karena penyajiannya yang menggunakan berbagai peralatan modern dari luar negeri, akan tetapi karena biji kopi yang disuguhkan adalah biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia.  Mulai dari kopi Aceh Gayo hingga Papua Wamena tersaji disana.

Menurut Manager Java Dancer Coffee, Hendry, keberadaan coffee shop di kawasan Jalan Kahuripan kota Malang ini membidik para wisatawan asing yang banyak berada di kawasan Tugu Malang.  Terutatma tamu asing di Hotel Tugu yang tepat berada di depan kafe ini.

‘Kopi yang kami tawarkan diproduksi sendiri dan sebelumnya sudah kami ekspor ke Denmark.  Dan sekarang kami coba tawarkan di Kota Malang sebagai kota asal produksi kopi ini.’ ungkapnya.

Hendri menuturkan Java Dancer Coffee adalah merek produk kopi yang dibuatnya bersama dua rekannya yang lain, yaitu David selaku roast master, dan Andri yang menjadi taster/cupper andalan.  Pusat produksinya berada di kawasan Araya Kota Malang.  Masing-masing personil boleh dibilang ahli di bidang minuman kopi, karena mereka sudah menempuh pendidikan khusus untuk membuat secangkir kopi.  Andre misalnya pernah belajar khusus pada ahli pembuat kopi di Amerika.  Ilmuj yang mereka dapatkan itulah yang kemudian dipraktikkan dalam penyajian kopi di sana.  Karena itu, nikmatnya kopi yang dirasakan adalah hasil kesempurnaan mulai dari penggorengan, proses hingga penyajiannya.

‘Untuk menggoreng kopi, kami memiliki ukuran kematangan, suhu dan teknik yang menggoreng yang tepat.  Dalam penyajiannya yang juga diperlukan teknik-teknik khusus agar tercipta rasa kopi yang benar-benar nikmat,’ urainya. 

Disinggung soal target utama dibukanya kafe yang menusung nuansa etnik Jawa itu, Hendri mengaku sebenarnya target terbesar adalah mempromosikan merek Java Dancer yang sudah populer di Denmark.  Pecinta kopi yang datang ke kafe bisa merasakan bagiamna kopi kahas buatan mereka yang diolah dengan kesempurnaan teknik.  APalagi biji kopi pilihan yang disajikan adalah biji kopi dari kebun masyarakat Indonesia sendiri yang tersebut mulai Aceh hingga Papua.  Selain itu, sebenarnya ketiga pendiri kafe ini adalah para penikmat kopi yang biasa berpetualang hanya untuk mencari secangkir kopi dengan rasa yang paling sempurna.

Dalam waktu dekat, kata dia, pihaknya akan menggagas event Coffee journey.  Dimana pengunjung akan mendapatkan voucher untuk menghabiskan semua pilihan rasa yang bisa disuguhkan di sana.

Java Dancer Coffee

Jalan Kahuripan 12, Malang 65111 – INDONESIA

+62 341 8199899

java4[1]

Pecel Madiun di Cikini

1355068p[1]Masih seputar icip mengicip kedai makanan di sekitar Cikini, meskipun harus jalan agak jauh sedikit, kita bisa mampir di sebuah kedai Pecel Madiun yang lokasinya persis disebelah Mi Gondangdia, tepatnya di Jalan RP Soeroso (dahulu Jalan Gondangdia Lama).

Karena memang vegetarian, saya sangat nge-fans dengan pecel dari aneka tempat di pulau Jawa ini.  Lalu, tiap hari sepulang dari kantor, saya selalu melewati jalan Gondangdia Lama.  Jadi tempat ini menjadi sasaran untuk di coba di akhir minggu kemarin.  Ada 2 pintu masuk, pilihlah yang sebelah kanan yang masuk ke dalam rumah. 

 

Menu andalan mereka selain pecel adalah rawon dan sate ponorogo.  Tentunya tidak memungkinkan buat saya mencoba dua menu terakhir, mungkin nanti akan kembali lagi mengajak ‘my other half’ untuk mencicipi.  Pecel Madiun datang diatas piring yang dilapisi daun pisang.  Nasi yang tak terlalu penuh disandingkan dengan dedaunan, seperti daun pepaya, daun singkong, taoge, kemangi, kenikir, irisan timun, kecipir berlumur bumbu kacang.  Bumbu ini pun bisa memilih, mau yang pedasnya sedang atau sangat pedas.  Saya pilih yang terakhir, masih bisa dinikmati dan tidak berlebihan pedasnya.  Tak lupa peyek kacang buatan sendiri.

Sepiring pecel Madiun diberi harga Rp.15,000 buat saya sangat mengenyangkan untuk makan siang.  Apabila suka, juga bisa ditambah tempe atau tahu bacem, atau empal daging.  Saya mencoba tempe bacem.. hmm sedap, karena tidak terlalu manis seperti kebanyakan baceman yang ada di Jakarta.

Mari mencoba!

Sambal Matah Bali

Sambal is food garnish in Indonesia, it came from various places with various taste.  The undercurrent taste is HOT and SPICY.. otherwise, it will not be called sambal.  One of them comes from Bali, it is called Sambal Matah, which means a raw sambal.  Here are the basic ingredients to make one:

Chilly padi (cabai rawit) – the more the hotter, red shallots (bawang merah), young lemongrass (batang serai muda), to be sliced thinly and combined with fresh lime juice (jeruk nipis).  Put a pinch of salt. Lastly pour  a dash of warm coconut oil. Combined all ingredients and serve immediately.

There you have it! It will go very nicely with a fresh grilled fish or some crispy pork grill (babi guling), if you like one.

Enjoy!

ulekan[1]

Es Durian Padang..ambo enaknya!

Jam masih menunjukkan sekitar 10.30 pagi di Padang.  Meeting di Universitas Andalas sudah selesai, kunjungan ke kantor sudah beres, matahari sudah mulai tinggi.. teman-teman cabang Padang mengajak kami mencicipi es durian yang paling nge-top di daerah Pondok.  Ternyata sepanjang jalan ada beberapa kedai es durian, tetapi yang dipilih adalah kedai Iko Gantinyo.

03062009189

Uni (penjaga kedai) langsung menyiapkan 4 mangkuk.  Begitu dihidangkan, wao.. begitulah komentar pertama.  Semangkuk es durian itu berisi potongan cincao hitam, suwiran daging kelapa yang sepertinya sih sudah tidak muda lagi, ditambah es serut, dan diatasnya disiram durian yang sudah berbentuk cair seperti krim dan ditutup dengan susu kental coklat.  Makanlah saya dengan penuh hikmat dan sedikit demi sedikit, karena terasa benar duriannya dan uenaknya.. Ruar biasa! 

Disetiap meja juga sudah disiapkan air putih dan gelasnya, untuk mengantisipasi reaksi durian yang lumayan nendang rasanya.  Selain es durian, resto Iko juga menyediakan makanan pendamping seperti mpek-mpek, sate Padang, gado-gado, serta es krim dan es krim durian.

03062009190

Sepulang dari makan es, belum puas rasanya kalau belum beli buah tangan atau oleh-oleh buat teman dan orang terkasih dirumah, maka kita mencari penjual keripik singkong balado.  Memang merek yang cukup terkenal dan satu-satunya yang memasang billboard raksasa di jalan menuju bandara adalah Christine Hakim.  Tetapi menurut teman-teman di Padang, singkongnya lumayan keras.  Mereka merekomendasikan Nan Salero di jalan Niaga.

0306200919203062009191

Toko Nan Salero berada di tengah Chinatown dan berada di sela-sela toko keripik singkong dan oleh-oleh Padang lainnya.  Di papan namanya tertera bahwa toko ini dahulunya adalah Tukang Gigi.  Dimana sambungannya ya? Mereka menjual aneka panganan dari singkong dan juga cemilan-cemilan lain yang relatif umum didapat di Jakarta.  Setelah dicoba, memang kripik singkong ini lebih renyah dibanding buatan Christine. Jadilah pemborongan terjadi ditempat. 

Kami langsung dilarikan ke bandara Minangkabau.  Matahari sudah tepat di ubun-ubun.. Garudaku sudah menanti, ke Jakarta kami terbang kembali.

Coffee Culture 4: Kopitiam Oey

Ga maar na Kopitiam Oey proberen.. Echt heerlijk, hoor!

Mencari tempat ngopi beserta kudapannya yang punya karakter unik nan jadul, relatif jarang di Jakarta.  Paling mirip dan menyenangkan selama ini adalah Bakoel Koffie di Cikini Raya.  Namun belakangan sudah ada tempat alternatif lain namanya Kopitiam Oey di jalan Haji Agoes Salim (dahulu jalan Sabang) nomor 18.  Pemiliknya sudah tidak asing lagi yaitu mas MakNyus alias mas Bondan Winarno, yang berkongsi dengan putrinya, Gwen.

kopitiam[1]

Tempatnya kecil mungil, bernuansa Cina Baba/Peranakan berasal dari Betawi dan sekitarnya, muat sekitar 10-12 meja kecil, dengan open-kitchen dan coffee-machine free…Menunya terbagi menjadi 3, yaitu makan pagi, siang dan malam.  Kalau mengharapkan full range nonya food mungkin jangan, karena dari namanya sudah jelas artinya coffee house atau warung kopi dalam bahasa Hokkien.  Sesuai nama, maka jam buka kedai ini Senin-Jumat dari jam 7pagi sampai 9 malam, Sabtu-Minggu mulai jam 8 pagi sampai 10 malam.

Lalu dari mana nama Oey didapat?  Konon kabarnya kalau diterjemahkan ke bahasa Hokkien, Winarno itu berarti Oey. Nggak percaya? Sudahlah.. terima saja.. nanti keburu lapar lho kalau berdebat yang satu ini.

Konsep dan misinya Mas Bondan untuk kedai ini tidak lain adalah untuk membangkitkan wisata kuliner tanah air lewat warung kopi, juga keinginan untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda serta yang mampu mengenang masa lampau.

Mengintip menunya, tentu saja penekanan pada minuman, tepatnya minuman kopi.    Selain kopi tubruk Jawa, kopi Aceh dan Bukittinggi ditawarkan juga kopi dari Vietnam..  Semuanya dibuat dan diramu secara manual, tanpa coffee machine. Juga aneka minuman dingin, seperti apple fizz dan lemon kiet soda.  Yang terakhir ini yang kami pesan.  Menurut saya, agak terlalu manis karena menggunakan Sprite, mungkin lebih enak menggunakan Soda Water, sambil ditingkahi manisan jeruk kikit dan bisa ditambah manisan plum kering. 

Kalau dari makanan, kudapan ‘standar’ adalah aneka roti bakar, diselingi panini berdaging ham, aneka nasi goreng (pilihan kami malam itu adalah nasi goreng pete.. hmm.. terasa benar bumbu terasinya!).. ditambah menu ‘langka’ seperti Bubur ayam Benteng, sego ireng, roti talua Bukittinggi, Gado-gado BonBin, Sate Ayam Ponorogo, juga lunpia udang GunSan (Gunung Sahari). 

kopitiambsr[1]

Malam itu diakhiri dengan bon sebesar Rp54ribu untuk berdua… dan rekomendasinya:  Boleh lah mampir lagi sambil icip-icip menu lain (yang vegetarian tentunya buat saya).  Mungkin lebih cocok juga hadir untuk makan siang, karena range menu lebih banyak pilihannya.

Kopitiam Oey

Jalan Haji Agoes Salim (Jl Sabang) 18

Jakarta Pusat

Telfon 021 3924475

A Yummy Cool Treat

I cannot drink milk for I am lactose intolerant.  I still cannot acquire the taste of soya milk, especially not in my coffee.  It will just ruin my day! But I love yogurt and I can deal with it in any form: fluid, firm, plain or eaten with various dishes. 

Adults who are lactose intolerant find that they are able to eat yogurt, since the bacteria that turns the milk to yogurt produces some of the enzymes required to digest the lactose.

According to a reading in the last edition of Yoga Journal, yogurt is an all-around tonic, capable of curing many ills, and generally considered to be an effective agent of balance for a person’s digestive system.

For the local product sold in the local supermarket, I would go for BioKul and Yummy – the ones which are plain, set firm one.  I find Chimori is too sweet. 

Here are some of my favourite mix and recipe:

FRUITOYOGO

AEQ3JNLCAP20RXDCAL8R9BUCAWNRO5KCAD37K9MCA0QT7BDCADHDPU6CAYVSMQ2CACJQOYMCAVIHXPYCABOYLDKCA1JQ4B7CAJBOOG9CA4CK9F8CAA2XW7MCA9RMWCLCA9HCSJICAD6OW6M

Makes 1 bowl for breakfast

Slice and dice:

Papaya, kiwi fruit, strawberry, passion fruit, dried sultana, dried almond.

Put 3-4 tablespoons of plain yogurt and add a dollop of honey to taste.

Mix all ingredients for a very filling breakfast.

CUCUMBER MINT RAITA

images[7]

Makes about 3 cups

A cooling accompaniment to spicy Indian meals or a tasty dip for flatbreads/pita bread.

2 cups plain yogurt

½ cup peeled, seeded and grated cucumber

3 tablespoons minced fresh mint

1 teaspoon ground coriander

Gently stir all the ingredients in a bowl until well mixed.  Serve chilled.

Java Bleu: Resto Perancis Berlogo Semar Biru

Kemeriahan kudapan di daerah Cikini tiada habis-habisnya.. dari yang edisi lawas dan penuh rasa nostalgia, sampai dengan yang melanglang buana nun jauh ke negeri Menara Eiffel, alias Perancis.  

Banyak sudah resto Perancis bermunculan dan bertahan di Jakarta, mulai dari kelas elit macam Emilie atau Cassis, atau yang ‘homey’ bernuansa French countryside seperti Boka Buka di Cipete dan Java Bleu.  Nah yang terakhir inilah yang memeriahkan dunia kulinari di Cikini.  Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata ini adalah gerai mereka yang kedua di Jakarta.  Yang pertama sudah dibuka di akhir 2007 di kawasan Fatmawati [Lihat tulisan dibawah ini]

Dari sang resto Manager, Michael, didapatkan konsep bahwa resto ini ingin mempertahankan keaslian menu lokal/klasik Perancis dalam nuansa country, dengan bahan/materi makanan pilihan.  

Kami datang di awal waktu makan malam.  Kapasitas pada saat ini adalah sekitar 30-50 tempat duduk.  Dibagi menjadi area bebas rokok (di bagian dalam dan ber-AC tentunya), dan area merokok, dipisahkan oleh pintu orisinal dari bangunan Belanda yang berderet di ruko Cikini, dihias jendela/tralis khas rumah Belanda.  

Menu makanan dibuat dalam format papan tulis beroda yang secara teratur diganti berkala.  Bagi kaum vegan macam saya, menu yang ada cukup bervariasi dan para pramusaji atau sang Chef sendiri cukup tanggap apabila menu minta dibuatkan versi vegetarian.  Kami memesan vegetarian mushroom macaroni cheese dan pork sausage untuk saya dan partnerku, ditambah 2 buah gelas Ballon Wine jenis Chardonnay dan Red.  Sambil menunggu pesanan datang, Michael datang untuk memperkenalkan Chef Daisy. 

Tidak lama berselang pesanan datang.. hmmm efisien dan relatif besar porsinya.  Sajian vegetarian mushroom macaroni cheese porsinya cukup besar ditambah dengan semangkuk garden salad sebagai side dish.  Agak surprise dengan penggunaan pene pasta sebagai bahan dasar, meskipun rasa kombinasi antara butter dan cream terasa pas sekali.  Pork Sausage disajikan dengan mustard, semacam sauerkraut dan sejumput salad.  Menurut partnerku sih rasanya enak, dan yang pasti, home-made.. bukan sosis jadi yang di beli di supermarket.

Rasa Ballon Wine menurut saya relatif standar.  Saya lebih pas dengan Australian Chardonnay (blink, blink.. subyektif sekali sih!).  Michael menjelaskan bahwa mereka mempunyai cukup variasi wine cellar dengan kisaran harga antara Rp300-500ribu per botol.  Sedangkan untuk BYO (Bring Your Own) atau corkage pembukaan botol dikenakan biaya Rp80ribu per botol.  Dengan porsi, rasa dan ambience yang ada, tagihan sebesar Rp247ribu terasa cukup pantas.  

Kami meninggalkan Java Bleu dengan hati gembira dan perut kenyang, sambil berpapasan dengan para pengunjung yang mulai berdatangan untuk makan malam.

Java Bleu Restaurant

Jalan Cikini Raya 15

Jakarta 10330

Ph : 021 3193552

Sacre bleu!’ A French favorite reopens on Fatmawati

The Jakarta Post, 21 October 2007

Aman Khan, Jakarta

The latest whisper around town is that Java Bleu is back. Having closed its doors a few years ago so Chef Antoine Audran could focus on other ventures, the French-style restaurant is open once again due to popular demand.

Java Bleu serves food that is meant to be shared. It doesn’t offer fine dining with linen tablecloths, chandeliers and white-gloved waiters. Quite the opposite, in fact. Java Bleu presents simple cuisine inspired by the French countryside.

Chef Antoine has lived in Jakarta for many years. He kicked off his career at the Culinary School Ferrandi in Paris and worked his way up over the years. He worked in Michelin restaurants in France, as well as in England, Switzerland, Africa, the Middle East and Asia, before settling down in Indonesia.

Java Bleu is not for everybody — those on strict diets had better stay at home. Expect to be filled to the brim at this homey establishment.

There is no menu in sight at Java Bleu. Rather than wasting time agonizing over pages of choices, a simple chalkboard listing fewer than 10 items is on display.

It’s a hole-in-the-wall establishment typifying the sort of food I like — organic, natural ingredients, and no fussy cooking or presentation.

What you will appreciate about Java Bleu is the lack of pretension — the food actually looks like food and not a plate decoration. The food at Java Bleu will give you a source of hearty contentment.

There’s a delightful pan-seared foie gras — simple, pure and classical. The mushroom soup, with a clean yet powerful flavor, keeps the cream in the background, allowing the taste of the chanterelle to come through.

The quiche forestiere is cheesy, with mushrooms and a luxurious soft middle to enjoy. It’s a heavy dish with good flavor. The sausages are juicy and delicious. The lamb chops are served medium, flawless in their simplicity.

There’s even horse on the menu, which, while not to my taste, will be appreciated by those who enjoy the gamey aftertaste.

Chef Antoine explained to me the background to his cooking style and love of heritage.

“”In France, food is culture, a part of the national heritage that is revered and developed. We do not eat merely to feed our bellies,”” he says.

“”We do like to combine pleasure with it as well. It’s difficult to explain as it is deeply rooted in our basic education and way of life. Perhaps a genetic touch?””

Are we what we eat?

“”People tend to lose their personality and become blander nowadays. Food speaks for itself. Look how many people are staying alive on instant noodles and fast food. It shows people do not take an interest in the taste of food but merely adjust their food habits to their wallet contents as well as the time spent in cooking or eating.

“”One of the main issues I would like to raise is the loss of the family core as well as the gastronomic family culture. People are simply losing their basic food knowledge. Losing at the same time what remains of their valuable culinary heritage.””

Chef Antoine is in love with food and his attitude and commitment is reflected in the dishes he serves. Java Bleu remains an unchanging gem in a city of nondescript restaurants.

With your first bite at Java Bleu, you know that you are in for a comforting time. These are the true and tested flavors of the French countryside. The sedate surroundings of the place leave you to focus on the meal itself. Chef Antoine keeps things at an enjoyable and hearty pitch right to the very last bite.

The portions are enormous and it makes much more sense to come in a group. A minimum of five to six people would do the experience justice. Order a few appetizers and main courses and get stuck in! That’s the way to eat at Java Bleu. ***

* Average
** Good
*** Excellent
**** Extraordinary

Java Bleu
Kompleks Golden Plaza
Jalan Fatmawati No : 15
Blok E 24
Jakarta Selatan
Tel: (021) 7507902
Open Tuesday to Sunday
from 7 p.m. till 9 p.m.

Dua Nyonya: Lokal batiknya, Lokal rasanya

Jalan-jalan di Cikini Raya terasa makin meriah belakangan ini, karena ada beberapa tempat makan baru, selain mencicipi makanan yang klasik, tempo doeloe, seperti di posting-an yang sebelumnya.  Salah satunya adalah toko batik Dua Nyonya, milik Dana Iswara dan Dewi Mallarangeng.  Uniknya ibu-ibu ini menggabungkan cuci mata batik dengan café kecil menarik disebelahnya.  Atmosfir toko dibuat informal, tidak seperti layaknya datang ke butik kelas menengah keatas di mal. 

Batik yang ada disana berbagai rupa, lengkap dengan asesoris etnik dan lerak, sabun untuk merawat/mencuci batik.  Selain masih dalam berbentuk kain, banyak juga yang sudah menjadi rok, blus, kemeja pria.  Ada batik dari berbagai pelosok tanah air, tapi masih di dominasi dari Jawa/Madura, baik yang edisi baru maupun lawasan atau istilah kerennya ‘vintage’.  Baju-baju jadi di disain oleh ke dua nyonya, ada yang bergaya klasik maupun modern, disesuaikan dengan tren dan selera pasar.

Setelah puas melihat sana-sini, bisa jadi juga beli sana-sini… pengunjung dapat mampir ke cafe di bagian samping toko.  Biarpun kecil, dapat menampung sekitar 20-30an tamu.. menunya sederhana dengan rasa lokal dan harga lumayan terjangkau.  Makanan pembukanya bisa pilih tempe mendoan atau perkedel jagung.  Yang paling populer buat saya adalah koleksi nasi bakar.. pilihan saya nasi bakar ikan peda.  Hadir lengkap dengan tempe goreng, sambal, lalapan dan sejumput lodeh.  Mantap! 

Biarpun kecil, café ini berfasilitas wi-fi.. apalagi yang membuat kita betah berlama-lama di cafe, selain tentunya, teman ngobrol yang menarik…

 Berikut tulisan yang muncul di Tempo Interaktif di bulan Maret mengenai kedai baru di Cikini, yang ditulis oleh Bismo Agung (23 Maret 2009).

Dua Nyonya, Kedai kopi Dana Iswara & Nyonya Mallarangeng

image.tempointeraktif[1]

Bermula dari kegemaran wisata kuliner di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Dana Iswara akhirnya ikut membuka kedai kopi di daerah yang sama.  Kedai itu didirikan bersama sobatnya, Dewi Mallarangeng.  Namanya Dua Nyonya, sesuai dengan predikat mereka sebagai nyonya dari ekonom Chatib Basri dan politikus Rizal Mallarangeng.

Selain menjual kopi, kedai itu menjajakan batik dan perhiasan.  Pertengahan bulan ini kedai mereka sudah mulai beroperasi. ‘Batiknya berasal dari berbagai daerah di Nusantara,’ ujar bekas penyiar televise itu.  Dana dan Dewi ternyata sudah berbisnis batik sejak satu setengah tahun lalu.

Mereka mengaku tak hanya usaha, tapi ingin ikut mempercantik kawasan Cikini. ‘Daerah ini kan termasuk kawasan lama,’ kata Dana.  Dia mengharap pihak lain ikut memanfaatkan Cikini untuk tujuan konservasi. ‘Masih ada bangunan kosong tidak berfungsi.’ Bila tertata apik, niscaya kawasan itu makin asyik untuk lokasi jalan-jalan.’ Kalau capek, bisa rihat sambil ngopi,’ ujarnya.  Boleh juga, tapi apa Dua Nyonya ini ikut menemani?

Nostalgia di sepiring Asinan

[This is another one of my favorite places in Jakarta since I was in St. Theresia High School.  My friends and I used to come here after an afternoon of Chemistry Lab class, or after our marching band practice, or before going to see a performance in Taman Ismail Marzuki, or just waiting for my dad to finish his dental practice across the street of this hole-in-the wall place.  I somehow notice that the price for a plate of asinan or gado-gado, for that matter, is quite steep or mahal for a typical local stall…. But I also notice that people are still quite adoring this place, there was no empty seat last week end when we arrived.  The owner is still the same.. now they close their shop earlier.. I asked why.  The owner said ‘we are just too tired from the day’s work’.. certainly, it was, since they were there since more than 3 decades ago.  Originally, there were 3 gado-gado/asinan shops, now there were only 2.  I do hope that the remaining shops would last for more years to come.  And the story would go something like this….]

 Gado-gado dari Kebun Binatang

 Oleh Pradaningrum Mijarto

Kompas.com

23 Mei 2008

Cikini sudah sejak sekitar seratus tahun silam menjadi kawasan elite.  Cikini identik dengan tempat rekreasi karena di kawasan ini terdapat kebun binatang pertama, Planten en Dierentuin, tahun 1864.  Pada 1949 berubah nama menjadi Kebun Binatang Cikini.

Selain kebun binatang, bioskop top di Jakarta kala itu, Garden Hall, dan bioskop Podium juga berdiri di sekitar kawasan ini.  Mereka yang doyan berendam juga bisa berenang di kolah renang yang tersedia.

Kebun Binatang menjadi tengara kawasan ini di masa tersebut.  Pada tahun 1960 Cikini merajut cerita baru yang di kemudian hari menjadi tengara lain bagi pemburu makanan masa lampau.  Tepatnya di Jalan Kebun Binatang III, sebuah warung mulai mencuri perhatian warga dengan es cendol pink.

 Tak seperti es cendol yang biasa ditemui, berwarna hijau dan terbuat dari tepung beras, maka cendol di warung itu punya ciri warna merah muda dan terasa lebih kenyal karena terbuat dari tepung hunkwe.

Warung itu diberi nama Bon Bin, kependekan dari kebon binatang.  Cendol merah mudanya menggoda warga sekitar.  Bahkan hingga kebun  binatang itu dipindah ke Ragunan sekitar pertengah tahun 1960 dan bioskop lenyap berganti menjadi kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), warung ini tetap populer.  Makin hari bukan hanya si cendol yang dicari, tapi juga gado-gado siram dan asinan bumbu kacang.

Perbincangan dari mulut ke mulut tentang warung itu sudah jadi iklah yang berdampak luas.  Apalagi, warung milik Lanny Wijaya berdekatan dengan sekolah kaum elite, Perguruan Cikini serta SMP1 Jakarta yang gedungnya dibangun awal abad ke-18 dan masuk dalam benda cagar budaya (BCB).  Sambil menjemput putra/putri, orangtua siswa mengisi perut di warung tersebut.

Begitulah, kisah si warung terus menyebar hingga kini.  Di masa sekarang warung itu berada di Jalan Cikini IV (pengganti Jalan Kebun Binatang).  Jalan kecil ini letaknya persis di seberang Laba-Laba.  Sementara itu menu yang dikejar dari warung itu tetap saja sama, es cendol, gado-gado siram, dan asinan.

Lebih mahal

Namanya juga makanan khas Jakarta yang sudah ada puluhan bahkan mungkin ratusan tahun lalu, tak aneh jika gado-gado menjadi sangat lazim.  Menjadi tidak biasa jika makanan itu dijajakan di satu tempat awet hingga puluhan tahun dan bertahan dengan bahan dan rasa yang sama.  Sepiring gado-gado siram berisi potongan lontong, rebusan bayam, tahu, tauge, telur ayam setengah berlumur bumbu kacang yang sangat halus kemudian ditutup dengan emping melinjo dan kerupuk udang, memang cukup menggoda.

Yang pasti, bumbu superkental tadi mendominasi semua rasa.  ‘Yang bikin beda gado-gado di sini bumbu kacangnya.  Ini kan bukan gado-gado ulek.  Kacang tanah digongseng terus dipecah, dipilih, kacang yang busuk dibuang.  Kalau enggak dipecah kan enggak kelihatan kualitas kacang tanahnya.  Setelah itu digiling kemudian dimasak sampai keluar minyak.  Itu bumbu siram gado-gado,’ papar Lanny.  Menurut perempuan berusia 78 tahun ini, sejak dirinya masih muda harga gado-gado siram lebih mahal daripada gado-gado ulek. ‘Dulu zaman saya kecil gado-gado siram harganya 3.5sen.  Yang ulek Cuma 1.5sen,’ tandasnya.

163008p[1]

Kini harga sepiring gado-gado di Warung Gado-Gado Bon Bin ini Rp19,000.  Untuk teman makan gado-gado ada ayam kampung (bumbu kuning) goreng Rp12,000 per potong.  Untuk melancarkan tenggorokan es cendol centil seharga Rp8,000 per gelas bisa dipilih.  Campuran santan dan gulanya terasa asli dan kental. 

Es kopyor bisa jadi pilihan lain.  Untuk minuman ini harganya nyaris setara dengan seporsi gado-gado, Rp17,000 per gelas.  Sebagai penutup, asinan bumbu kacang yang berisi sawi, irisan kol, lobak lokio, dan tauge yang diguyur bumbu kacang.  Tak ketinggalan kacang tanah goreng dan kerupuk mi.  Kesegaran tadi cukup dengan Rp14,000.

163209p[1]

Seiring perkembangan zaman, Lanny pun menambah menu.  Selain ayam kampung goreng, ada juga lotong cap go meh.  Tetap saja orang rela antre di warung ini demi sepiring gado-gado siram.

Jadi ingat lagu berirama keroncong yang dinyanyikan Mus Mulyadi dan Tuty Tri Sedya:

 Gado-gadonya, Bung, dari Jakarta.  Sangat digemari rakyat jelata.  Satu bungkusnya, Bung, lima rupiah.  Bang Achmad pulang, Bung, sudah sedia Mpok Saminah, Bung malas ke dapur.  Semua ada, tahu goreng, kerupuk udang, campur-campur.  Bila Mpok Minah, Bung, malas belanja Beli gado-gado dari Jakarta.

« Older entries