Nostalgia di sepiring Asinan

[This is another one of my favorite places in Jakarta since I was in St. Theresia High School.  My friends and I used to come here after an afternoon of Chemistry Lab class, or after our marching band practice, or before going to see a performance in Taman Ismail Marzuki, or just waiting for my dad to finish his dental practice across the street of this hole-in-the wall place.  I somehow notice that the price for a plate of asinan or gado-gado, for that matter, is quite steep or mahal for a typical local stall…. But I also notice that people are still quite adoring this place, there was no empty seat last week end when we arrived.  The owner is still the same.. now they close their shop earlier.. I asked why.  The owner said ‘we are just too tired from the day’s work’.. certainly, it was, since they were there since more than 3 decades ago.  Originally, there were 3 gado-gado/asinan shops, now there were only 2.  I do hope that the remaining shops would last for more years to come.  And the story would go something like this….]

 Gado-gado dari Kebun Binatang

 Oleh Pradaningrum Mijarto

Kompas.com

23 Mei 2008

Cikini sudah sejak sekitar seratus tahun silam menjadi kawasan elite.  Cikini identik dengan tempat rekreasi karena di kawasan ini terdapat kebun binatang pertama, Planten en Dierentuin, tahun 1864.  Pada 1949 berubah nama menjadi Kebun Binatang Cikini.

Selain kebun binatang, bioskop top di Jakarta kala itu, Garden Hall, dan bioskop Podium juga berdiri di sekitar kawasan ini.  Mereka yang doyan berendam juga bisa berenang di kolah renang yang tersedia.

Kebun Binatang menjadi tengara kawasan ini di masa tersebut.  Pada tahun 1960 Cikini merajut cerita baru yang di kemudian hari menjadi tengara lain bagi pemburu makanan masa lampau.  Tepatnya di Jalan Kebun Binatang III, sebuah warung mulai mencuri perhatian warga dengan es cendol pink.

 Tak seperti es cendol yang biasa ditemui, berwarna hijau dan terbuat dari tepung beras, maka cendol di warung itu punya ciri warna merah muda dan terasa lebih kenyal karena terbuat dari tepung hunkwe.

Warung itu diberi nama Bon Bin, kependekan dari kebon binatang.  Cendol merah mudanya menggoda warga sekitar.  Bahkan hingga kebun  binatang itu dipindah ke Ragunan sekitar pertengah tahun 1960 dan bioskop lenyap berganti menjadi kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), warung ini tetap populer.  Makin hari bukan hanya si cendol yang dicari, tapi juga gado-gado siram dan asinan bumbu kacang.

Perbincangan dari mulut ke mulut tentang warung itu sudah jadi iklah yang berdampak luas.  Apalagi, warung milik Lanny Wijaya berdekatan dengan sekolah kaum elite, Perguruan Cikini serta SMP1 Jakarta yang gedungnya dibangun awal abad ke-18 dan masuk dalam benda cagar budaya (BCB).  Sambil menjemput putra/putri, orangtua siswa mengisi perut di warung tersebut.

Begitulah, kisah si warung terus menyebar hingga kini.  Di masa sekarang warung itu berada di Jalan Cikini IV (pengganti Jalan Kebun Binatang).  Jalan kecil ini letaknya persis di seberang Laba-Laba.  Sementara itu menu yang dikejar dari warung itu tetap saja sama, es cendol, gado-gado siram, dan asinan.

Lebih mahal

Namanya juga makanan khas Jakarta yang sudah ada puluhan bahkan mungkin ratusan tahun lalu, tak aneh jika gado-gado menjadi sangat lazim.  Menjadi tidak biasa jika makanan itu dijajakan di satu tempat awet hingga puluhan tahun dan bertahan dengan bahan dan rasa yang sama.  Sepiring gado-gado siram berisi potongan lontong, rebusan bayam, tahu, tauge, telur ayam setengah berlumur bumbu kacang yang sangat halus kemudian ditutup dengan emping melinjo dan kerupuk udang, memang cukup menggoda.

Yang pasti, bumbu superkental tadi mendominasi semua rasa.  ‘Yang bikin beda gado-gado di sini bumbu kacangnya.  Ini kan bukan gado-gado ulek.  Kacang tanah digongseng terus dipecah, dipilih, kacang yang busuk dibuang.  Kalau enggak dipecah kan enggak kelihatan kualitas kacang tanahnya.  Setelah itu digiling kemudian dimasak sampai keluar minyak.  Itu bumbu siram gado-gado,’ papar Lanny.  Menurut perempuan berusia 78 tahun ini, sejak dirinya masih muda harga gado-gado siram lebih mahal daripada gado-gado ulek. ‘Dulu zaman saya kecil gado-gado siram harganya 3.5sen.  Yang ulek Cuma 1.5sen,’ tandasnya.

163008p[1]

Kini harga sepiring gado-gado di Warung Gado-Gado Bon Bin ini Rp19,000.  Untuk teman makan gado-gado ada ayam kampung (bumbu kuning) goreng Rp12,000 per potong.  Untuk melancarkan tenggorokan es cendol centil seharga Rp8,000 per gelas bisa dipilih.  Campuran santan dan gulanya terasa asli dan kental. 

Es kopyor bisa jadi pilihan lain.  Untuk minuman ini harganya nyaris setara dengan seporsi gado-gado, Rp17,000 per gelas.  Sebagai penutup, asinan bumbu kacang yang berisi sawi, irisan kol, lobak lokio, dan tauge yang diguyur bumbu kacang.  Tak ketinggalan kacang tanah goreng dan kerupuk mi.  Kesegaran tadi cukup dengan Rp14,000.

163209p[1]

Seiring perkembangan zaman, Lanny pun menambah menu.  Selain ayam kampung goreng, ada juga lotong cap go meh.  Tetap saja orang rela antre di warung ini demi sepiring gado-gado siram.

Jadi ingat lagu berirama keroncong yang dinyanyikan Mus Mulyadi dan Tuty Tri Sedya:

 Gado-gadonya, Bung, dari Jakarta.  Sangat digemari rakyat jelata.  Satu bungkusnya, Bung, lima rupiah.  Bang Achmad pulang, Bung, sudah sedia Mpok Saminah, Bung malas ke dapur.  Semua ada, tahu goreng, kerupuk udang, campur-campur.  Bila Mpok Minah, Bung, malas belanja Beli gado-gado dari Jakarta.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: