Yoga & Religion?

Excerpted from Yoga Journal Daily Insight dated 10th August 2009.

AAYIFB1CAR5FYNZCAOVI0WKCAF4YGNRCA4TJNIZCAL8F1A4CAWK12M8CAIEX5RKCADKDZ1BCAZ73HQGCAGBM2JZCAIR7L89CA6Q3V9TCAUQ9E3UCANMWL7QCAB85ZIKCAEZSQUCCAGFQGWR

Today, many yoga practitioners assert that yoga is not a religion in their minds.  This begs the question: If hatha yoga is not a religion, what is it? Is it a hobby, a sport, a fitness regimen, a recreational activity? Or is it a discipline, such as the study of law or the practice of medicine? The odd truth is taht there are ways in which the practice of yoga resembles all of those pursuits.

Perhaps it would be halpful to consider the difference between the word ‘religion’ and another word commonly associated with it, ‘spirituality’.  Spirituality, it could be said, has to do with one’s interior life, the ever-evolving understanding of one’s self and one’s place in the cosmos – humankind’s ‘search for meaning’.  Religion, on the otehr hand, can be seen as spirituality’s external counterpart, the organizational structure we give to our individual and collective spiritual processes:  the rituals, doctrines, prayers, chants, and ceremonies, and the congregations that come together to share them.

The fact that so many yogis report spiritual experiences in their practices indicates how we might best view the ancient art.  While many Westerners come to yoga primarily for its health benefits, it seems safe to say that most people who open to yoga will, in time, find its meditative qualities and more subtle effects on the mind and emotions equally  (if not more) beneficial.  They will, in other words, come to see yoga as spiritual practice.  But, without credos or congregations, it can’t properly be regarded as a religion – unless we say that each yogi and yogini comprises a religion of one.

Advertisements

Tato Mentawai Akan Tinggal Kenangan

PadangKini.com

15 Juni 2008

Urlik Tatubeket, lelaki Mentawai berusia 46 tahun asal Pulau Sipora, terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Ada Peduli Mentawai (AMA-PM) dalam Kongres Masyarakat Adat Mentawai, di Tuapejat, Sipora, dua tahun lalu.

Sebagai ketua sebuah organisasi yang mengatasnama masyarakat adapt, Urlik terkesan jauh dari sosok seorang Mentawai yang dikenal melalui foto-foto selama ini.  Begitu juga dengan 265 peserta kongres, sebagian besar laki-laki, yang datang dari berbagai pelosok kampung di Kepulauan Mentawai.

Urlik dan mereka tak satupun yang memiliki tato penghias tubuh sebagai seorang Mentawai.  Padahal tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi’ adalah bagian dari kebudayaan Mentawai yang penting.  SEtidaknya, ini telah bisa membuktikan bahwa tradisi tato sudah mulai ditinggalkan oleh orang Mentawai.

‘Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali dibeberapa kampung pedalaman di Siberut yang masih ada hingga kini, ‘kata Ulrik.

Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan adalah tiga pulau, dimana orang Mentawai yang berdiam disana tak lagi menato dirinya sejak 1950-an.  Menurut Urlik, di Pulau Sipora yang orang Mentawainya kini sekitar 8,000 jiwa, yang masih memiliki tato tak lebih dari 10 orang.  Tiga laki-laki dan selebihnya perempuan.  Usia mereka diatas 70 tahun.  Hal yang sama juga terjadi di Pagai.  Meski dihuni lebih 11,000 orang Mentawai, yang masih memiliki tato juga tak lebih dari 10 orang.  Mereka juga berumur diatas 70 tahun.

‘Bisa dipastikan, dalam 20 tahun ke depan tidak akan ada lagi orang Mentawai Sipora dan Pagai yang memiliki tato di tubuhnya,’ katanya.  Ada beberapa penyebab, menurut Urlik, kenapa tato hilang di Sipora dan Pagai.  Pertama, ajaran agama yang melarang kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan kepada roh-roh, dan menganggap tato bagian dari kepercayaan itu.

Kedua, upacara membuat tato diawali dengan rangkaian upacara lain yang lama (paling cepat enam bulan) dan banyak pantangan (larangan).  Upacara ini disebut ‘punen’.  Karena itu banyak orang Mentawai yang tidak ingin menjalankannya karena sangat berat.

Ketiga, ada rasa malu bagi orang Mentawai, terutama yang bersekolah ke luar daerah untuk menato dirinya, karena dianggap orang lain sebagai lambing keterbelakangan dan primitive.  Kelompok orang Mentawai modern ini merasa lega terlepas dari budaya Arat Sabulungan.

Malu karena tidak ‘Bulepak’

Protestan yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan lama orang Mentawai disbanding Katolik yang masuk sejak 1955 dan Islam sejak 1952.  Karena itu, Sipora dan Pagai yang mayoritas memeluk agama Protestan lebih cepat hilang kebudayaannya, termasuk tradisi tato.

‘Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta,’ kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Sipora.  Untuk bisa menato diri, suatu suku di Sipora harus melakukan ‘punen’ yang paling cepat menghabiskan waktu enam bulan.  Punen dimulai dengan mendirikan uma (rumah ada khas Mentawai) dengan memotong sejumlah babi dan mengikuti berbagai pantangan.  Di antaranya tidak boleh melakukan [hubungan] seks dengan istri, tidak boleh memandang wanita, tidak boleh makan dan minum sebelum acara makan dan minum bersama, dan sebagainya.

‘Acara puncak punen adalah dengan melakukan perjalanan ke Pulau Siberut sebagai asal orang Mentawai, acara itu disebut ‘Bulepak’, ke sana naik sampan sampai 40 orang.  Jika sudah kembali dengan selamat menempuh ombak yang besar dari Siberut dengan membawa manik-manik khas Siberut, maka semua warga suku sudah boleh menato diri,’ kata Urlik.  Upacara seperti inilah yang berat dilakukan orang Sipora.  Menurut Urlik, acara ‘Bulepak’ terakhir yang dilakukan orang Sipora pada 1950-an.  Setelah itu tidak ada lagi orang Mentawai di Sipora yang melakukan itu.  Akibatnya, mereka tidak berani menato diri, karena syaratnya tidak ada.  ‘Mereka malu menato diri karena tidak pernah ‘bulepak’, setelah itu tak ada lagi orang Sipora yang bertato, hal yang sama juga terjadi di Pagai; katanya.

Ditato itu Sakit

Di Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai dan merupakan pusat dan asal kebudayaan Mentawai, masih ada sejumlah kampung pedalaman yang masih menggunakan tato.  Dikampung-kampung di Sarereiket, Ugai, Matotonan, Simatalu, Sakudei dan Dimalegi penduduknya masih memakai tato.

 Meski di beberapa kampung para pemuda dan gadis yang mulai dewasa tetap ditato tubuhnya, namun yang meninggalkan tradisi tato jauh lebih banyak.  Umumnya mereka yang sudah berinteraksi dengan dunia modern, seperti melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA yang hanya terletak di ibukota kecamatan atau ke Padang.  ‘Umumnya kampung-kampung yang tradisi tatonya masih ada adalah yang menganut Katolik, sebab Katolik lebih longgar dan tidak sekeras Protestan melarang mereka, tetapi anak-anak muda yang bersekolah tak lagi mau ditato,’ kata Urlik.

Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Mentawai, seiring dengan pengaruh dunia luar.  Jika dulu orang yang bertato dianggap lambang orang yang sehat dan kuat di Mentawai, kini anggapan itu telah beralih sebagai orang terbelakang.  ‘Ditato itu sakit dan lagian lambing primitive,’ kata Gerson Saleleubaja, 24 tahun, pemuda asal Maileppet, Siberut Selatan, yang kini menjadi jurnalis di Tabloid Puailggoubat, sebuah Koran lokal di Mentawai.

Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia, Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Padang, menyimpulkan bahwa tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia.  Sayang, belum banyak yang meneliti jenis dan makna tato di Mentawai.  Ady Rosa sendiri baru meneliti penggunaan tato pada orang Mentawai di sejumlah kampung di Siberut dan belum meneliti di Sipora dan Pagai.  Padahal, menurut Urlik, tato Sipora dan Pagai memiliki perbedaan tertentu dari tato Siberut.  Misalnya, di Sipora ada tato tiga garis lengkung di pipi dan satu garis lurus dari dagu hingga leher.  Tato-tato ini belum diteliti dan akan segera hilang karena pemakainya yang sudah uzur.

160 motif Tato

Tato oleh orang Mentawai tak hanya berfungsi untuk keindahan tubuh, tetapi juga lambang yang menunjukkan posisi atau derajat orang yang memakainya.  Ady Rosa, peneliti tato menyimpulkan, seni tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi’ mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang antara 1500 sampai 500 sebelum Masehi.  Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson. ‘Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300SM, jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai,’katanya.

Ady Rosa dalam laporan hasil penelitiannya berjudul ‘Fungsi dan Makna Tato Mentawai’ (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai.  Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang tergambar lewat tato utama.  Ini semacam kartu tanda penduduk (KTP).  Kedua, sebagai status sosial dan profesi.  Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai.  Misalnya sikerei (tabib dan dukun), pemburu binatang, atau orang awam.  Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan.  Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato (disebut ‘sipatiti’) melalui gambar-gambar yang indah.

Menurut Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.  Masing-masing berbeda satu sama lain.  Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.

Pembuatan tato sendiri melewati proses ritual, karena bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan (kepercayaan kepada roh-roh).  Bahan-bahan dan alat yang digunakan didapat dari alam sekitarnya.  Hanya jarum yang digunakan untuk perajah yang merupakan besi dari luar.  Sebelum ada jarum, alat pentatoan yang dipakai adalah sejenis kayu karai, tumbuhan asli Mentawai, yang bagian ujungnya diruncingkan.

Sipatiti (pembuat tato)adalah seorang lelaki dan tidak boleh perempuan.  Sebelum pembuatan tato harus diadakan ‘punen patiti’ (upacara pentatoan).  Upacara dipimpin oleh seorang sikerei.  Upacara yang dilakukan dengan menyembelih beberapa ekor babi ini harus dibiayai oleh orang yang ditato dan hanya dilakukan pada awal pentatoan. 

Menurut tato di Mentawai dilakukan tiga tahap. Tahap pertama pada saat seorang berusia 11-12 tahun, dilakukan pentatoan di pangkal lengan.  Tahap kedua usia 18-19 tahun dengan menato bagian paha.  Tahap ketiga setelah dewasa.  Proses pembuatan tato memakan waktu dan diulang-ulang.  Tentu saja menimbulkan rasa sakit dan bahkan menyebabkan demam.

My solitude, my quiet space and pace

images[10]

Reading through this article in the latest Yoga Journal edition resonates with some of my escapes when I need it a little or even, a big time out. I relate this with my practice of walking meditation as a reflection of quietness without physically being quiet.  I have been practicing walking meditation for a while.  First I experienced it as part of a week-end retreat in Nan Tien Temple in the south coast of Sydney, about one and a half hour drive.  

At that time, I was fortunate to be led by a group of monks for a late afternoon court-yard walking meditation in the middle of winter, before we ended up inside the temple.  It was about focusing on my pace, my space with one another, foremost with my breathing.  

Another event, was with the flock from JakartaDoYoga, when we were about to do yoga in the park, the Taman Surapati park, that was. It was quiet early, and every one who came to the studio was asked to be quiet and minimize our chitchat.  We departed from Jalan Sunda and walking in a quiet pace through the leafy Menteng area, for about 30 minutes.  It was a good warming up, too, before practicing yoga.  When I keep quiet, I see more and actually, enjoy more of what’s happening in the surrounding area we passed by – continue observing with minimal judgement

Alternatively, when walking is not possible, I would go for swimming,  lap swimming that is.  This one is even more structured in the movement, in the pace and space, especially in focusing the mind – all the right elements.  And most definitely, one can’t talk!  Here is the excerpt…

What would you be willing to give up if you knew it would immeasurably enrich your life? I gave up speech.  I was called to silence 16 years ago when, while walking the shores of a Cape Cod beach and nearly on a whim, I decided to set aside the following day and go without talking.  This step back from the noise and busyness of my day proved so instructive and restful, I wanted to repeat the experience.  Since then, on the first and third Mondays of every month, without exception, I have practiced silence for 24-hour periods.

That first day, when I’d told two friends about my decision to go a day without speech, both reacted with the same words: ‘How radical.’  Struck by the coincidence of their responses – after all, this was a day of non-speech, not a divorce or career change – I looked up ‘radical’ in the dictionary and learned that it comes from the Latin word radicalis, and means to go to the root of something.  I dismissed the notion, seriously doubting whether one day of silence could get to the root of anything.  But this simple act has altered my life and become my greatest teacher – testing, tempering, and healing me in ways I could not have foreseen when I began.  It offers me peace and solace in a world in which these qualities are hard to come by.

The stillness of these days creates space, allowing me to rest, to reflect rather than react, and to think about what matters.  Silent time has fostered a better connection to nature, and to myself and others.  In quiet, I am more attentive to ordinary moments and thus am open to the extraordinary.

Silence has formed a foundation for me by providing the time and fertile space in which to reflect on the kind of life I want to have and the center from which to live it.  It has indeed proved to be the quietest of revolutions.  It has taught me to listen, and in listening, I hear my life’s song.

images[2]

Speechless – experience the restorative poser of silence in these simple ways:

  • Invite your family to join you in eating a meal in silence.
  • Commit to a day without speech.  Prepare family and friends ahead of time so they know what to expect.
  • Find a labyrinth and walk it in silence.
  • Spend a few quiet hours alone in nature.
  • Take a one-day sabbatical from email, phones, radio and TV.
  • For one day, perform household or gardening chores in silence.

From:

The quietest revolution – what makes silence a radical act?

By Anne LeClaire

Yoga Journal June 2009

Lasem dan Kisah Tiga Kelenteng Tua

Cuplikan tulisan M.Herwiratno: Lasem, Antara Jawa dan Cina.

Kontributor Jakarta

Femina, Januari 2007

 

Layaknya daerah pecinan, disini akan ditemukan 3 kelenteng, tidak hanya 1 seperti di pecinan lain.  Istimewanya, kelenteng-kelenteng ini memiliki keunikan dan sejarah masing-masing yang sulit dijumpai di daerah lain di Indonesia.

 

Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, misalnya, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-16, merupakan kelenteng tertua di Lasem.  Dewi Laut Thian Siang Seng Bo sebagai dewi pelindung para perantau dari bahaya di lautan ditempatkan di altar utama.  Karena awalnya, masyarakat Cina Lasem memang kaum pedagang peratauan yang kemudian menetap.

 

klenteng-cu-an-kiong

 

Tapi, yang paling menarik dari kelenteng ini adalah ornamen ukiran kuno dalam bentuk dan warna yang sangat indah.  Ornamen yang menghiasi atap bagian dalam kelenteng mengandung berbagai kisah dari filosofi Cina, serta melambangkan berbagai harapan.  Misalnya, bunga empat musim melambangkan harapan akan kedamaian, gajah melambangkan kebijaksanaan, kijang dan bangau melambangkan panjang umur.  PIhak kelenteng menyediakan papan informasi khusus yang menerangkan tentang symbol-simbol ini.

 

Dari kelenteng Cu An Kiong, saya naik andong sekitar 10 menit menuju kelenteng Gi Yong Bio yang terletatak di Jalan Babagan.  Walau bangunannya sederhana, kelenteng ini merupakan kebanggaan masyarakat Cina Lasem.  Kelenteng ini memang dibangun khusus sebagai penghormatan masyarakat Cina Lasem yang bersatu dengan masyarakat pribumi dalam melawan penjajahan Belanda tahun 1745-1752.  Pemimpin perjuangan tersebut yaitu Mayor Ui Ing Kiat dan Tan Ko Wi yang memimpin kaum Cina, dan Raden Panji Margono yang memimpin masyarakat pribumi.  Masyarakat memberi penghormatan dengan cara menempatkan arca mereka di altar khusus dalam kelenteng tersebut.

 

ajv3xjvcar6z2o6carbfrqocamom26ncaq7y8mxca0lkyshca0hdpg3cacsd1z1caz5cq6lcax54iyccayqaib6cat53bpqcar73vbqca56e0uqcaphysbaca3l7scycar1cl16cahg0xd8

 

Satu lagi kelenteng tua di di Lasem adalah Poo An Bio.  Kelenteng ini didirikan setelah tahun 1740, ketika masyarakat Cina Lasem meningkat pesat karena datangnya pengungsi Cina dari Batavia.  Akibatnya permukiman Cina meluas hingga ke daerah selatan, ke daerah Karangturi.

 

Meningkatnya komunitas Cina Lasem yang sebagian berasal dari daerah Quanzhou, provinsi Fucien atau Hokkian, membuat mereka perlu membangun sebuah kelenteng untuk memuja dewa pelindung mereka, Kong Tik Cun Ong atau Guang Ze Zun Wang.  Arca Dewa Kong Tik Cun Ong sering dibawa oleh para pedagang Cina dalam bagasi perahunya sebagai dewa pelindung para perantauan.  Kelenteng di Desa Karangturi ini kemudian diberi nama Poo An Bio atau Bao An Miao, sesuai gelar sang dewa, yaitu Bao An Zun Wang atau Raja Terhormat Pelindung Ketentraman.  Lukisan cerita klasik Cina menghiasi sekeliling tembok dalam kelenteng.  Cerita 24 anak berbakti dan cerita Sam Kok terlukis di tembok bagian kiri dan kanan kelenteng.

 

Ketiga kelenteng di Lasem tergabung dalam Yayasan Trimurti, yang mengadakan berbagai acara ritual.  Misalnya, untuk memperingati ulang tahun dewa-dewi kelenteng Lasem, mereka mengadakan ritual Gotong Tepekong.  Ritual ini dilaksanakan dengan menaikkan arca dewa-dewi ke atas tandu, lalu diarak keliling kota.  Tujuannya, agar para dewa-dewi tersebut memberkahi penduduk dengan rezeki dan juga menolak bala, demi keselamatan dan kesehatan penduduk di daerah tersebut.

 

Upacara ritual lainnya adalah Sedekah Laut.  Ritual ini dilaksanakan dengan menaikkan dewi laut Thian Shang Sheng Mu ke perahu nelayan dan kemudian mengarak keliling Pantai Laut Lasem.  Ritual ini dilaksanakan agar dewi laut memberkati keselamatan para nelayan dan penduduk Pantai Lasem agar terhindar dari bahaya laut, khususnya bencana tsunami.

 

tian-shang-sheng-mu

Life cannot be Hurried

[Lately, whenever we experienced ‘diarrhea of words’ between my partner and I.. meaning they can be worth, because of getting rid of it from your system.. or just meaningless flow of unnecessary spitting… he always said ‘the important thing is now, not the past.. because now I am with you!  It took me a while to digest it, until I bumped into the following entry by Leanne in True Yoga website (www.trueyogainc.com).  And it goes very well within the context of being in the now, not only applicable for yoga practice, but, indeed for life.  You may notice by now, no matter how I have practiced yoga and which level I have attained.. as long as I cannot practice it in my real life as a day-to-day behaviour, attitude and approach to life.. I may as well continue to practice, to learn, to draw experience, to be humble.. to improve myself and becoming better every day.]

 

gyantze-tibet

[Gyantze Tibet – photography courtesy of Gladia Budianto]

This is a Maasai saying.  The Maasai people live in Magadura in East Africa, a small village in the highlands above the Serengeti.  When I first read this quote the other day, I felt tremendous amount of relief.  It is simply another way of saying ‘life is a journey, not a destination’ yet everytime I hear this I awaken to a new perspective of life and a deeper experience of peace and well being.  Said another way: The good life is a process, not a state of being.  It is a direction, not a destination. – Carl Rogers.

 

Recently in class, I’ve been reminding students to experience the fullness of each breath.  So often we are breathing with the intention of getting to the next place, the next moment, the next breath.  This becomes particularly obvious in our yoga practice.  Not long ago, as I was practicing yoga, I noticed I was hurrying through breathing in each pose.  I began to see how this shows up n my life.  This obsession with always looking to the next moment…

 

My practice is beginning to shift and slow down since I’ve had this awareness, as well as, my teaching.  I am realizing the true practice of yoga is in the quality of our breath, not the pace of our movement or the number of poses we get into each practice.  The true practice of yoga and living yoga, is in breathing each breath to the fullest.  To feel each breath be complete and fully expanded, before we seek to take our next breath…

 

The following poem is called Lost, by David Wagoner:

 

Stand still.  The trees ahead and the bushes beside you

are not lost.  Wherever you are is called Here,

And you must treat is as a powerful stranger,

Must ask permission to know it and be known.

The forest breathes.  Listen.  It answers,

I have made this place around you.

If you leave it, you may come back again, saying Here.

No two trees are the same Raven.

No two branches are the same Wren.

If what a tree or bush does is lost on you,

You are surely lost.  Stand still.  The forest knows

where you are.  You must let it find you.

 

May we awaken to the joy of the journey with each full breath of the way.

 

Happy, Full and Peaceful Breathing!

 

Rumi and The Whirling Dervishes

[There are various approaches to meditate, besides the typical cross-legged one.  We know there is also walking meditation or any repetitive physical movements which actually form a rhythm to ultimately quiet the mind.  There is chanting which not only repeating mantras or sentences to focus the intention subsequently form as a prayer.  I am always enchanted with the Dervishes who keeps on singing, dancing, whirling and whirling in a trance mode… what are they achieving by doing so.. where does it come from originally…  In the light of a series of entries about Rumi, here is the connection between them and the mystery behind it.]

 

images31The Whirling Dervishes were founded in the 13th century by the great Sufi mystic and poet, Muhammad Jalaluddin Rumi.  Rumi, born in Afghanistan in 1207, he came to Turkey when the Mongols invaded his homeland and settled in the city of Konya with his family.  Following in his father’s footsteps, Rumi became a scholar in spiritual readings, and a practitioner of Sufism or a theosophist, besides he is also known as a mystic poet, a thinker.  If you ask him, ‘What are you?’  He would say, ‘I am nothing but a simple lover of God.’  A true lover of God has no definite nationality, language or race for loves everything without discrimination.  Rumi turned to poetry and losing himself in dance and song to reach ecstatic states and thus commune with God.  His disciples called him Mevlana (our leader), and that’s where the Mevlevi Whirling Dervishes took their name.

 

images8Sufism is a mystical sect of Islam that believes God is in everything, and that humans can come in direct contact with the Divine spirit through love of life and all that is around them.  Rumi firmly believed that Muslims are by no means the only people to whom God has revealed himself.. love of God transcends particular religions and nationalities.

 

Dervish literally means ‘doorway’ and is thought to be an entrance from material world to the spiritual world.  Their dance is called Mevlevi Sema – the dance of the Whirling Dervishes.  It becomes part of the Turkish history, beliefs and culture.  The Sema ceremony represents man’s ascent to Heaven, his spiritual journey, his turning towards the truth, growth through love, desertion of self to lose oneself in God.  

 

autr6jacap77z8sca44si02ca58mhgmcailznonca349sgpca17wmygcafqrhudcapqzvb7caxtsbjlcazqflotcae3kakccav22ag7cab3r732cahmzh0ucaet92aqcab8ihghcaslghy7The whirling is a prayer during which the Dervish’s body can become open to receive the energy of God.  For this to occur, the Dervish attempts to be empty of ego or sense of self.  Turning with one palm extended upward to receive and one palm extended downward to give, the Dervish does not attempt to keep the power.  Dancers are wearing tall conical felt hats and long white robes with full skirts covered with heavy black cloaks.  The white robes symbolize their worldly tombs and the hats, their tombstones.  By the third circuit around the hall, they drop their black cloaks, which is symbolic of their deliverance from the cares and attachments of the world.  One by one with arms folded over their hearts, they approach the sheikh, and bow to him.  Upon receiving blessings or instructions whispered in their ears, they spin out on to the floor.  The whirling induces a trance-like state that allows them to forget about their earthy lives and join in mystical union with God.

 

images11Everything in the universe revolves – the planets around their Sun, the Earth on its axis, the protons, electrons and neutrons in our body.  The Whirling Dervish aligns him or herself with that Universal Truth so that when the Dervish turns, the universe opens.

 

The practice of the Whirling Dervishes may have declined in Turkey since Ataturk’s ban, but international attention and admiration of the Sufi tradition has increased significantly.  Today Dervish groups from Turkey travel all over the world in cultural exchanges, whirling and sharing their love of God.

 

The above note is collated from different sources.

Upala Yoga

shane20hart20paul20gregory20newman20rock20balancing2002_11

 

‘The art and practice of stone balancing has been cultivated around the world for thousands of years.  It’s known by names such as Land Art, Awareness Art, Petromancy and Earthworks.  I call it Upala Yoga (Stone Yoga).  Upala and Yoga are Sanskrit words; Upala means stone and Yoga means union.  Upala Yoga is temporal, hours can be spent on a sculpture and a subtle vibration or light wind can take it down in an instant.  It’s a meditative art that evokes a sense of amazement, focuses our attention in the moment, and challenges us to examine our attachment to the material world.’

 

The above text was written by Shane Hart, the artist who is practicing balancing the stone in Bellingham, WA, USA – where he lives with his family.  A steady crowd and followers bring also a sense of community around where he lives as he practices his Upala Yoga at a city park.  Check out his link on www.stonetostone.com

 

shane20hart20paul20gregory20newman20rock20balancing20wallpaper2001_11

 

Tranquil Tummy

ae9p72kca8gxw2aca6oolt6caw3w0ubcapozcopcabz89gscajd71sbcaskk02scac8qtyscavxr6f8ca03dvmjcaphqqmfcag8joj6caoqibvtcadgvu7vcaeholl8cac6xrqccal64bn2

Soothe a troubled digestive system with these natural remedies.

 

According to Ayurveda, gas and constipation are signs of disturbed vata and low agni.  Vata, meaning ‘wind’, governs our body’s internal and external motion.  Agni, or ‘digestive fire’, transforms what we eat into the nutrients the body can assimilate and transform into energy.  Certain foods, cold or dry weather, or disruptions to your schedule can upset both, resulting in slow digestion and stagnation in the digestive tract.  For mild constipation or gas, follow these guidelines to calm your vata and stabilize your agni.

 

Eat right – Balance vata’s cool, rough dryness with moist, warm meals of freshly cooked whole foods.  Avoid cold, dry, fried and processed foods.  And eat moderate amounts at regular mealtimes even if you don’t feel hungry.

 

Butter up – Stoke your agni by adding a teaspoon of ghee (clarified butter) and some warming spices such as ginger, cumin, or cinnamon to your meals.

 

Go herbal – Traditional Ayuverdic herbal formulas such as hingwashtak, avipattikar and trikatu are effective agni boosters when taken in powder form added to warm water.

 

Make lemonade – Warm lemonade alleviates the tissue dryness associated with constipation and gas.  Upon waking, stir the juice of one-quarter lemon into a large mug of warm water, along with a teaspoon of raw, unprocessed honey.

 

Try Triphala – Triphala is a traditional combination of three dried fruits, in powder form, that acts as a mild laxative for some.  Mainly, though, it’s a tonic that detoxifies the colon and improves its ability to absorb the subtle life force, or prana, from digested food before waste is eliminated.

Smooth moves – Forward bends and twists compress the lower abdomen to release gas.  They also relieve tension that can disrupt peristalsis, says Jillian Pransky, director of retorative yoga teacher training for YogaWorks, who suggests the following poses:

 

Pavanamuktasana (Wind-relieving pose)

a7vjr86caz9ff0ycahqtra6ca4japqmcajqxgvaca2dmhs7cayjsswdca5trh0hcaofrbthcaamascdcak44tawcanlkxwlca53wmslcadrx0atca59m1d2ca9dainjcag0zrc1ca32ln3p 

 

Balasana (Child’s pose) supported

axyo1afcainw9zpca82nfipcah4qwbuca9f8e50calckxfnca88jgduca8fbkxoca4l8aitcajzn841casqhrnscajithfhca99yf4icazd0umscaaiosjocavaebdpcaeqykq2cam8xbg4

 

Paschimottanasana (Seated forward pose)

aayifb1car5fynzcaovi0wkcaf4ygnrca4tjnizcal8f1a4cawk12m8caiex5rkcadkdz1bcaz73hqgcagbm2jzcair7l89ca6q3v9tcauq9e3ucanmwl7qcab85zikcaezsquccagfqgwr

 

Supta Baddha Konasana (Reclining Bound Angle Pose), supported

ab6nzewca2dmtblcan14oi7camq2ki8caoq0muycapzrldvcayu90l7caf8yvftcaig82cvcavpraw5cak1195eca2intceca5c27jmcakn825ocaawqejfcaql36qccav7gzdacar7zgz0

 

Janu Sirsasana (Head of the knee pose), supported

amq31naca0w9nfocaqy9eofcav5cxqkca1gtkm9casak9l0cays13f7caink6pccaactnjbcap1futkca7nkti8ca3swhs0cafdpp1vca4krza3calfxlndcawfe3w1cafwk3keca3w43n9

 

Jathara Parivartanasa (Revolved abdomen pose)

asqc8eoca276qylcalxw1zvcabj607kca49tt42carnj32mca9vh4ccca9repgzcayr29x6ca6gcccucalya1lfcah36ob1cab0bcdbcaegq5p2ca6v1iyvcadnuy0pcagb61bgcapw93ux

 

By Niika Quistgard from Yoga Journal October 2008

 

Note:

Hingwashtak – provides relief from Vata type digestive problems such as bloating and flatulence.  Contains:
Pippali (Piper longum), Ginger (Zingiber offinale), Marica (Piper nigrum), Ajamoda (Carum roxburghianum), Saindhava (Rock salt), Sveta jeeraka (Cuminum cyminum), Krsna jeeraka (Carum carvi), Hingu (Ferula foetida)
Avipattikar – relief digestive heat Contains: cane sugar, nishoth, cardamom, clove and ginger.

Trikatu – Trikatu is a renowned Ayurvedic digestive compound, which raises the metabolism to eliminate toxins and ensure efficient digestion of food.  Contains: Pippali (long pepper), Marica (black pepper), Sunthi (dry ginger)

Spice makes Nice

Fragrant cardamom lends its subtle sweetness to chai and

is natural digestive aid.

azvhbkeca7u9yhqca2wag6rcal1vzxqca4i41mgca1gfr2icaqe0iphca9ern2ycazj5sh3ca8sjlc5cahbyh8zcazx5rnfcahd3o1hcauy0cahcaq24t4ecaaq9a7bcaigoguzcagu4h9za2bnearcamsotryca3ebdrlcatfox90caot466tcav5siu8ca127suscadxqgu2cakwyygrca7wkw6dca3bx1bscaaoc01tca843x38cab2n9qbcal3br9ecanb37lycaii4xkoca0snilh

 

Ever taste the earthy vanilla undertones in chai or Indian milk desserts and wonder what that special flavor is? Most likely it’s the spice cardamom.  In the traditional Indian medicine, Ayurveda, cardamom seeds are also used as lozenges to suck on after meals to help digestion.  From an Ayurvedic perspective, acid from tea and coffee, and spicy foods like curries, irritate the intestines, leading to an increase of gas-producing mucus that then makes congestive ingredients such as milk, cheese, and wheat much more difficult to digest.  

 

It turns out that the tiny cardamom seeds reduce mucus buildup caused by heavier foods – especially rich desserts – and contain natural carminatives, which reduce gas.  Cardamom is also alkaline, making it natural antidote to acid.  As a member of the ginger family, cardamom has been used to make heavy and acidic foods easier to digest for more than 5000 years.  Throughout the Middle East even coffee is brewed with ground cardamom seeds, reducing its acid and neutralizing the stimulating effects of caffeine (plus it tastes good!).  Cardamom is also one of the richest sources of the phytochemical cineole, a potent antiseptic for bad breath, gum disease, sore throats, and respiratory conditions.

 

Ground into a spice with a mortar and pestle, cardamom can be dusted on French toast, stirred into puddings and squash soups, or sprinkled over vanilla ice cream.  It’s sure to make ordinary foods naturally sweeter on the palate and easier on the tummy.

By John Douillard – Yoga Journal, October 2008.

Note: Cardamom = kapulaga in Bahasa Indonesia.

Tato yang kehilangan penggemar

cimg1900Ditulis oleh Febrianti

Bagian dari tulisan Sungai Silaoinan, Suatu Hari

Tempo, 29 Maret 2009

 

Lihatlah pemuda itu.  Di lengan kirinya ada tato burung elang, dan tepat dibawahnya tampak gambar sepotong tangan.  Dadanya dihiasi tato sarang laba-laba dan sketsa perempuan telanjang.  Tato si pemuda berbeda sekali denga sikerei (dukun dan ahli tumbuhan obat) yang duduk disebelahnya.

 

Tato sang sikerei lebih indah dan simetris.  Kedua lengan, mulai dari bahu hingga siku, dihiasi tato morif spiral dan motif gelang di lengan sebelah bawah.  Sedangkan bagian dada dengan motif garis-garis lengkung, ditambah dengan garis lengkung di pinggul dan garis-garis mendatar di paha dan betis.

 

‘Ini gambar tato zaman sekarang, kalau itu sudah kuno,’ kata Anto Satoinong, 20 tahun, membandingkan tatonya dengan tato yang melekat di tubuh sikerei Sadodolu Sabailati, 70 tahun disebelahnya.  Persamaannya, kedua tato itu dibuat dengan tekhik dan peralatan yang sama kunonya, menggunakan jarum yang dicelupkan ke air tebu dan jelaga.

 

Sadodulu Sabailati menyayangkan pendapat sang pemuda.  Menurut dia, titi (sebutan untuk tato) adalah budaya Mentawai dan bentuknya lebih bagus dan punya arti.  Namun ia mengaku hanya tinggal generasinya yang menggunakan titi.

 

‘Anak-anak saya juga tidak ada yang mau ditato, karena melihat banyak orang luar yang tidak memakai tato dan merasa tato kuno.  Selain itu, mereka tidak ditato karena rasanya sakit,’ kata Sadodolu.  Ia sendiri ditato saat masih remaja.  Ketika itu semua tubuh lelaki dan perempuan berhias tato sebagai ganti pakaian.

 

‘Membuat titi ini butuh waktu berhari-hari dan berdarah.  Apalagi kalau dibawa mandi rasanya sakit sekali.  Ada juga yang pingsan saat dibuat titi,’ kata Sadodolu.

 

Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Siberut, seiring dengan pengaruh dunia luar.  Menurut Urlik Tatubeket, Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Peduli Mentawai, tato tidak hanya dikenal di Siberut, tetapi di semua kepulauan Mentawai lainnya seperti di Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.  Tetapi disana tradisi tato sudah duluan hilang sejak 1950 – an.

 

‘Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali di beberapa kampong pedalaman di Siberut,’ kata Urlik.

Protestan, yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan Arat Sabulungan yang dianut orang Mentawai.  Tato dianggap bagian dari kepercayaan itu, karena selama mengerjakannya disertai dengan punen patiti atau upacara penatoan.

 

‘Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta,’ kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Pulau Sipora, dan tidak memiliki tato. ‘ Selain itu, orang Mentawai yang bersekolah keluar daerah juga tidak mau menato dirinya karena takut dianggap primitif.’

 

Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia.  Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang, menyimpulkan bahwa Tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia karena seni tato mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang tahun 1500 sampai 500 sebelum Masehi.  Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson.

 

‘Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300 sebelum Masehi.  Jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai,’ kata Ady Rosa.  Menurut Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.  Masing-masing berbeda.  Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan, bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.

 

Ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai.  Pertama sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan.  Ini tergambar lewat tato utama, semacam kartu tanda penduduk.  Lalu sebagai status sosial dan profesi.  Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai, misalnya sikerei, pemburu binatang, atau orang awam.  Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan.  Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato melalui gambar-gambar yang indah.

 

the_mentawai_21artzfpncazgf8rycaqib9ztcax4sp0qca7j5680caa7cw7ocaj1965rcaos47ezcaix2wfpcajnuzsaca13014ucap8lwrhcaw7cz6lcaroin80catkkgzbcayv0iuicappxowvcasn0sccab05gogca3won0cca971n0ecat4mt6pca244lrbcaq0urbaca0gymdwcae5rtabcaavy214caefysjhca6e4t1rca8p95i2cacm95b0ca3ql6rycaogez13cabipu3ecasx45l2caesiqae

« Older entries