Tato Mentawai Akan Tinggal Kenangan

PadangKini.com

15 Juni 2008

Urlik Tatubeket, lelaki Mentawai berusia 46 tahun asal Pulau Sipora, terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Ada Peduli Mentawai (AMA-PM) dalam Kongres Masyarakat Adat Mentawai, di Tuapejat, Sipora, dua tahun lalu.

Sebagai ketua sebuah organisasi yang mengatasnama masyarakat adapt, Urlik terkesan jauh dari sosok seorang Mentawai yang dikenal melalui foto-foto selama ini.  Begitu juga dengan 265 peserta kongres, sebagian besar laki-laki, yang datang dari berbagai pelosok kampung di Kepulauan Mentawai.

Urlik dan mereka tak satupun yang memiliki tato penghias tubuh sebagai seorang Mentawai.  Padahal tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi’ adalah bagian dari kebudayaan Mentawai yang penting.  SEtidaknya, ini telah bisa membuktikan bahwa tradisi tato sudah mulai ditinggalkan oleh orang Mentawai.

‘Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali dibeberapa kampung pedalaman di Siberut yang masih ada hingga kini, ‘kata Ulrik.

Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan adalah tiga pulau, dimana orang Mentawai yang berdiam disana tak lagi menato dirinya sejak 1950-an.  Menurut Urlik, di Pulau Sipora yang orang Mentawainya kini sekitar 8,000 jiwa, yang masih memiliki tato tak lebih dari 10 orang.  Tiga laki-laki dan selebihnya perempuan.  Usia mereka diatas 70 tahun.  Hal yang sama juga terjadi di Pagai.  Meski dihuni lebih 11,000 orang Mentawai, yang masih memiliki tato juga tak lebih dari 10 orang.  Mereka juga berumur diatas 70 tahun.

‘Bisa dipastikan, dalam 20 tahun ke depan tidak akan ada lagi orang Mentawai Sipora dan Pagai yang memiliki tato di tubuhnya,’ katanya.  Ada beberapa penyebab, menurut Urlik, kenapa tato hilang di Sipora dan Pagai.  Pertama, ajaran agama yang melarang kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan kepada roh-roh, dan menganggap tato bagian dari kepercayaan itu.

Kedua, upacara membuat tato diawali dengan rangkaian upacara lain yang lama (paling cepat enam bulan) dan banyak pantangan (larangan).  Upacara ini disebut ‘punen’.  Karena itu banyak orang Mentawai yang tidak ingin menjalankannya karena sangat berat.

Ketiga, ada rasa malu bagi orang Mentawai, terutama yang bersekolah ke luar daerah untuk menato dirinya, karena dianggap orang lain sebagai lambing keterbelakangan dan primitive.  Kelompok orang Mentawai modern ini merasa lega terlepas dari budaya Arat Sabulungan.

Malu karena tidak ‘Bulepak’

Protestan yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan lama orang Mentawai disbanding Katolik yang masuk sejak 1955 dan Islam sejak 1952.  Karena itu, Sipora dan Pagai yang mayoritas memeluk agama Protestan lebih cepat hilang kebudayaannya, termasuk tradisi tato.

‘Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta,’ kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Sipora.  Untuk bisa menato diri, suatu suku di Sipora harus melakukan ‘punen’ yang paling cepat menghabiskan waktu enam bulan.  Punen dimulai dengan mendirikan uma (rumah ada khas Mentawai) dengan memotong sejumlah babi dan mengikuti berbagai pantangan.  Di antaranya tidak boleh melakukan [hubungan] seks dengan istri, tidak boleh memandang wanita, tidak boleh makan dan minum sebelum acara makan dan minum bersama, dan sebagainya.

‘Acara puncak punen adalah dengan melakukan perjalanan ke Pulau Siberut sebagai asal orang Mentawai, acara itu disebut ‘Bulepak’, ke sana naik sampan sampai 40 orang.  Jika sudah kembali dengan selamat menempuh ombak yang besar dari Siberut dengan membawa manik-manik khas Siberut, maka semua warga suku sudah boleh menato diri,’ kata Urlik.  Upacara seperti inilah yang berat dilakukan orang Sipora.  Menurut Urlik, acara ‘Bulepak’ terakhir yang dilakukan orang Sipora pada 1950-an.  Setelah itu tidak ada lagi orang Mentawai di Sipora yang melakukan itu.  Akibatnya, mereka tidak berani menato diri, karena syaratnya tidak ada.  ‘Mereka malu menato diri karena tidak pernah ‘bulepak’, setelah itu tak ada lagi orang Sipora yang bertato, hal yang sama juga terjadi di Pagai; katanya.

Ditato itu Sakit

Di Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai dan merupakan pusat dan asal kebudayaan Mentawai, masih ada sejumlah kampung pedalaman yang masih menggunakan tato.  Dikampung-kampung di Sarereiket, Ugai, Matotonan, Simatalu, Sakudei dan Dimalegi penduduknya masih memakai tato.

 Meski di beberapa kampung para pemuda dan gadis yang mulai dewasa tetap ditato tubuhnya, namun yang meninggalkan tradisi tato jauh lebih banyak.  Umumnya mereka yang sudah berinteraksi dengan dunia modern, seperti melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA yang hanya terletak di ibukota kecamatan atau ke Padang.  ‘Umumnya kampung-kampung yang tradisi tatonya masih ada adalah yang menganut Katolik, sebab Katolik lebih longgar dan tidak sekeras Protestan melarang mereka, tetapi anak-anak muda yang bersekolah tak lagi mau ditato,’ kata Urlik.

Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Mentawai, seiring dengan pengaruh dunia luar.  Jika dulu orang yang bertato dianggap lambang orang yang sehat dan kuat di Mentawai, kini anggapan itu telah beralih sebagai orang terbelakang.  ‘Ditato itu sakit dan lagian lambing primitive,’ kata Gerson Saleleubaja, 24 tahun, pemuda asal Maileppet, Siberut Selatan, yang kini menjadi jurnalis di Tabloid Puailggoubat, sebuah Koran lokal di Mentawai.

Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia, Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Padang, menyimpulkan bahwa tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia.  Sayang, belum banyak yang meneliti jenis dan makna tato di Mentawai.  Ady Rosa sendiri baru meneliti penggunaan tato pada orang Mentawai di sejumlah kampung di Siberut dan belum meneliti di Sipora dan Pagai.  Padahal, menurut Urlik, tato Sipora dan Pagai memiliki perbedaan tertentu dari tato Siberut.  Misalnya, di Sipora ada tato tiga garis lengkung di pipi dan satu garis lurus dari dagu hingga leher.  Tato-tato ini belum diteliti dan akan segera hilang karena pemakainya yang sudah uzur.

160 motif Tato

Tato oleh orang Mentawai tak hanya berfungsi untuk keindahan tubuh, tetapi juga lambang yang menunjukkan posisi atau derajat orang yang memakainya.  Ady Rosa, peneliti tato menyimpulkan, seni tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi’ mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang antara 1500 sampai 500 sebelum Masehi.  Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson. ‘Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300SM, jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai,’katanya.

Ady Rosa dalam laporan hasil penelitiannya berjudul ‘Fungsi dan Makna Tato Mentawai’ (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai.  Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang tergambar lewat tato utama.  Ini semacam kartu tanda penduduk (KTP).  Kedua, sebagai status sosial dan profesi.  Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai.  Misalnya sikerei (tabib dan dukun), pemburu binatang, atau orang awam.  Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan.  Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato (disebut ‘sipatiti’) melalui gambar-gambar yang indah.

Menurut Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.  Masing-masing berbeda satu sama lain.  Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.

Pembuatan tato sendiri melewati proses ritual, karena bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan (kepercayaan kepada roh-roh).  Bahan-bahan dan alat yang digunakan didapat dari alam sekitarnya.  Hanya jarum yang digunakan untuk perajah yang merupakan besi dari luar.  Sebelum ada jarum, alat pentatoan yang dipakai adalah sejenis kayu karai, tumbuhan asli Mentawai, yang bagian ujungnya diruncingkan.

Sipatiti (pembuat tato)adalah seorang lelaki dan tidak boleh perempuan.  Sebelum pembuatan tato harus diadakan ‘punen patiti’ (upacara pentatoan).  Upacara dipimpin oleh seorang sikerei.  Upacara yang dilakukan dengan menyembelih beberapa ekor babi ini harus dibiayai oleh orang yang ditato dan hanya dilakukan pada awal pentatoan. 

Menurut tato di Mentawai dilakukan tiga tahap. Tahap pertama pada saat seorang berusia 11-12 tahun, dilakukan pentatoan di pangkal lengan.  Tahap kedua usia 18-19 tahun dengan menato bagian paha.  Tahap ketiga setelah dewasa.  Proses pembuatan tato memakan waktu dan diulang-ulang.  Tentu saja menimbulkan rasa sakit dan bahkan menyebabkan demam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: