Kisah dalam secarik Batik

Tabloid Kontan No.50

Tahun IX, 19 September 2005

 Oleh Johana Ani Kristanti, Rika Theo

 Pertama kali berbisnis batik, Daud memilih aliran batik tematik yang tergolong langka.  Alhasil, batik bikinannya mampir di tubuh para pesohor, seperti Mandela, Khadafi, Bush dan Mahatrhir.  Ia juga mempunyai galeri di Milan dan Singapura.

 Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga.  Hal itulah yang dialami KRT Daud Wiryo Hadinagoro yang dibesarkan dalam keluarga batik.  Ayah Daud adalah seorang pembatik, sedangkan ibunya berdagang batik.  Alhasil, bisnis Daud sekarang tak jauh-jauh dari batik.

 Nama Daud sendiri memang tidak akrab di telinga.  Namun, batik hasil coretannya sudah mendunia.  Beberapa kepala negara pernah menyandang batik bikinan Daud, sebutlah Nelson Mandela, George Bush, dan Mahathir.  Maklum, ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, Daud ditunjuk menjadi gift provider Instana Negara.  Jika ada kunjungan kenegaraan, presiden akan membawa salah satu karya Daud sebagai buah tangan untuk tuan rumah yang disambangi.  ‘Saya buat batik yang sesuai dengan corak dan filosofi negaranya,’ ujar Daud.

Tentu saja, sukses Daud menembus istana tidak semudah menuangkan lilin panas dari canting.  Ia sempat jatuh bangun menjual batik goresan orang lain.  Bahkan, ketika mencoba membuat batik sendiri, karya Daud tidak langsung dikenal secara luas.

Ide membuat batik sendiri muncul ketika Daud mendirikan museum batik di Yogyakarta milik keluarganya, tahun 1997.  Kebetulan, ayahnya memiliki koleksi batik keratin Yogyakarta dan Surakarta.  ‘Orang datang dan bilang, wah.. batiknya bagus, ya.  Kok sekarang enggak bisa buat yang kayak begini lagi?’ tiru Daud.  Komentar-komentar itulah yang mendorongnya membikin merek batik sendiri.

Meski dibesarkan dalam keluarga batik, Daud merasa gundah lantaran pada saat itu ia harus bersaing dengan lebih dari 6000 pengusaha batik.  Daud pun mencari celah untuk mencuri pasar.  Sayangnya ‘Modal engga ada, mau pinjam bank takut’ kata pria berusia 44 tahun ini.  Tapi, Daud tak kurang akal.  Ia menggandeng Dinas Pariwisata Bantul untuk menggaet turis melihat batik buatan tangannya.  Si turis tertarik lantas memesan 2000 kain.  Daud langsung menentukan harga antara Rp1juta sampai Rp2juta per potong yang segera disetujui oleh pembelinya.  Deal awal mereka adalah sebanyak 20 potong kain batik.’ Itulah modal pertama dan pembeli saya,’ kenang Daud.

Daud tetap merasa harus miliki corak batik yang lain dari batik di pasaran.  Ia pun lantas mengambil konsep batik kompeni, yakni batik yang motifnya bisa bercerita tentang peristiwa tertentu.  Karya pertama Daud dengan konsep tersebut adalah memindahkan peristiwa bom Bali ke selembar kain batik.  Karya Daud ini langsung terkenal lantaran dipajang dalam sebuah pameran.  Pilihannya mendokumentasikan tragedi bom dalam sepotong batik sempat menimbulkan pertanyaan. ‘ Saya bilang, saya seniman, saya membuatnya untuk dokumentasi, bukan untuk di pakai,’ jelas Daud.  Tapi sejak itu, Daud lekat dengan batik tematik.

Lima kuintal pewarna, dua meter kain

Batik tematik Daud mengambil banyak kekajdian.  Ia membuat batik dengan tema HIV dan AIDS, lantas membawanya pameran di California.’ Mereka terkenal sebagai kota gay, tapi untuk seni dan budaya lebih bisa menerima,’ ujarnya.  Ada pula batik bertema narkoba dan kebakaran hutan.  Daud juga membuat batik bertema perang Irak. ‘Saya berangkat ke Irak dengan wartawan World Press Photo lalu saya tuangkan ke kain,’ kata Daud.

Karena sifatnya lebih pada dokumentasi, harga batik tematik Daud tidak murah.  Sekitar Rp40juta sepotong.  Namun, ia mengaku tidak mendapat banyak laba lantaran batik tematik lazimnya merupakan kerja sama dengan LSM atau lembaga tertentu. ‘ Kita cari dana, lalu uangnya digunakan untuk kampanye,’ jelas Daud.

Sebagai pengusaha, tentu saja, Daud tidak bisa hidup dari batik tematik yang tidak dijual kepada masyarakat umum. ‘Harus ada sisi idealis dan sisi komersial.  Idealisnya untuk promosi, komersialnya untuk cari duit’ katanya.  Demi menjalankan sisi komersial, Daud membuat batik sogan yang diberi nama Sogan Daud.  Ciri khasnya adalah paduan warna abu-abu, cokelat, bitu, hitam dan putih.  Daud juga tak ragu memasukkan warna lain, seperti warna hijau botol.’Orang bilang, itu warna kompromi,’ ujar Daud.

Setelah mempopulerkan Sogan Daud, kini ia membuat batik multidimensi.  Batik ini merupakan penyatuan beberapa corak dan warna.  TIdak seperti kain biasa, menyatukan warna dan corak dalam batik tulis relative sulit lantaran kain yang digunakan bisa sobek. ‘Tapi kami punya resep bagaimana motif dan warna ini disatukan’ jelas Daud.  Hal tersebut membuat batik Daud tampak khas.

Kain bikinan Daud ini cepat sekali dikenal para penggemar batik.  Terlebih karena penyuka batik bisa memesan motif atau warna tertentu.  Ia kerap menerima pesanan batik dari empat warna benang yang hasil jadinya harus sama persis. ‘Tapi sempat juga ada pemesan yang protes, kok di batik lain ada motif Semarnya, padahal ia merasa pesan duluan,’ kisah Daud sambil tertawa.

Pemesan batik Daud harus rela merogoh kocek antara Rp3juta sampai Rp17juta untuk sepotong kain.  Pasalnya, ‘Batik ini bukan souvenir, tapi handicraft!’ tegas Daud yang ingin memberikan motif khusus pada setiap batik produknya sendiri.  Menurutnya, orang tidak mau memakai batik yang motifnya sama persis dengan corak taplak meja atau sarung bantal.

Selain itu, Daud bisa menyatukan puluhan warna pada sepotong batik tanpa merobek kainnya. ‘Saya memakai lima kuintal pewarna untuk dua meter kain batik,’ ucap Daud yang belaja komposisi warna dari Affandi dan Widayat.  Itu sebabnya, warna-warna batik Daud begitu jelas mencorong.  Tapi, karena menghasilkan limbah cari yang luar biasa, Daud pun harus membangun pengolahan limbah sendiri.  Ia menginvestasikan Rp4milliar untuk pengolahan tersebut.  Tak heran, jika harga batik Daud tidak murah.

Penggemar batik Daud bukan cuma datang dari dalam negeri.  Sekarang, Daud sudah memiliki gerai di Milan dan Singapura.  Ia mempekerjakan 207 orang, termasuk 194 pembatik yang menangani desain darinya.  Ia mengelola lima rumah produksi, dan membuka dua diantaranya untuk dikunjungi para turis yang tertarik pada kegiatan rumah tangga ibu-ibu tersebut.

Tak perlu pakai gerai

Meskipun dibesarkan dalam keluarga pembatik, awalnya KRT Daud Wiryo Hadinagoro tidak tertarik untuk berbisnis batik.  Ia malah menjadi penari jawa di Keraton Yogyakarta.  Baru pada umur 15 tahun Daud belajar membatik pada orang tuanya sendiri.  Selama tujuh tahun berikutnya, Daud berkutat pada batik. ‘Saya mondar-mandir ke si A, B, C, sampai semua filosofi batik akhirnya saya ketahui semua,’ ujarnya.

Tahun 1998 Daud mencoba berjualan batik.  Bersama temannya, Daud membuka gerai batiknya di Mal Pondok Indah.  Sebagai pemikat, Daud menjual long torso yang banyak dikenakan nyonya-nyonya indo zaman dulu.  Itu sebabnya, batik dagangan Daud lebih dikenal sebagai Batik Nyonya Indo.  Sayangnya, setahun kemudian gerai itu tutup karena sewanya terlalu mahal. Daud lantas pindah jualan di lobi hotel Hyatt Yogyakarta. ‘Sewanya gratis,’ katanya terbahak.  Tapi, umurnya juga cuma dua tahun.

Untungnya, Daud telah mengumpulkan cukup modal dan sudah terkenal.  Ia menjajal lagi berjualan di Novotel dan Sogo.  Namun, gerainya di Sogo justru mengundang protes para pelanggan. ‘ Mereka komplain karena bisa ketahuan kalau beli batik saya,’jelasnya.  Maklum, para pelanggan batik Daud ingin tetap memiliki hak eksklusif atas batik mereka.  Itu sebabnya, Daud memilih tak punya gerai di pusat perbelanjaan tapi bisa merangkul banyak pelanggan.

Catatan tambahan:

Sejak gempa Yogyakarta di tahun 2006, Daud memutuskan untuk menutup gerainya di Novotel Yogyakarta.

Untuk pemesanan kain diatas mori dengan motif klasik, seperti sogan atau sekar jagad, akan memakan waktu 2-3 bulan. 

Patron pesanan kebaya akan di simpan dan di pakai ulang ketika dilakukan pemesanan di kemudian hari.  Pembuatan kebaya biasanya memakan waktu antara 4-6 minggu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: