Tato yang kehilangan penggemar

cimg1900Ditulis oleh Febrianti

Bagian dari tulisan Sungai Silaoinan, Suatu Hari

Tempo, 29 Maret 2009

 

Lihatlah pemuda itu.  Di lengan kirinya ada tato burung elang, dan tepat dibawahnya tampak gambar sepotong tangan.  Dadanya dihiasi tato sarang laba-laba dan sketsa perempuan telanjang.  Tato si pemuda berbeda sekali denga sikerei (dukun dan ahli tumbuhan obat) yang duduk disebelahnya.

 

Tato sang sikerei lebih indah dan simetris.  Kedua lengan, mulai dari bahu hingga siku, dihiasi tato morif spiral dan motif gelang di lengan sebelah bawah.  Sedangkan bagian dada dengan motif garis-garis lengkung, ditambah dengan garis lengkung di pinggul dan garis-garis mendatar di paha dan betis.

 

‘Ini gambar tato zaman sekarang, kalau itu sudah kuno,’ kata Anto Satoinong, 20 tahun, membandingkan tatonya dengan tato yang melekat di tubuh sikerei Sadodolu Sabailati, 70 tahun disebelahnya.  Persamaannya, kedua tato itu dibuat dengan tekhik dan peralatan yang sama kunonya, menggunakan jarum yang dicelupkan ke air tebu dan jelaga.

 

Sadodulu Sabailati menyayangkan pendapat sang pemuda.  Menurut dia, titi (sebutan untuk tato) adalah budaya Mentawai dan bentuknya lebih bagus dan punya arti.  Namun ia mengaku hanya tinggal generasinya yang menggunakan titi.

 

‘Anak-anak saya juga tidak ada yang mau ditato, karena melihat banyak orang luar yang tidak memakai tato dan merasa tato kuno.  Selain itu, mereka tidak ditato karena rasanya sakit,’ kata Sadodolu.  Ia sendiri ditato saat masih remaja.  Ketika itu semua tubuh lelaki dan perempuan berhias tato sebagai ganti pakaian.

 

‘Membuat titi ini butuh waktu berhari-hari dan berdarah.  Apalagi kalau dibawa mandi rasanya sakit sekali.  Ada juga yang pingsan saat dibuat titi,’ kata Sadodolu.

 

Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Siberut, seiring dengan pengaruh dunia luar.  Menurut Urlik Tatubeket, Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Peduli Mentawai, tato tidak hanya dikenal di Siberut, tetapi di semua kepulauan Mentawai lainnya seperti di Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.  Tetapi disana tradisi tato sudah duluan hilang sejak 1950 – an.

 

‘Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali di beberapa kampong pedalaman di Siberut,’ kata Urlik.

Protestan, yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan Arat Sabulungan yang dianut orang Mentawai.  Tato dianggap bagian dari kepercayaan itu, karena selama mengerjakannya disertai dengan punen patiti atau upacara penatoan.

 

‘Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta,’ kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Pulau Sipora, dan tidak memiliki tato. ‘ Selain itu, orang Mentawai yang bersekolah keluar daerah juga tidak mau menato dirinya karena takut dianggap primitif.’

 

Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia.  Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang, menyimpulkan bahwa Tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia karena seni tato mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang tahun 1500 sampai 500 sebelum Masehi.  Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson.

 

‘Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300 sebelum Masehi.  Jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai,’ kata Ady Rosa.  Menurut Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.  Masing-masing berbeda.  Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan, bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.

 

Ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai.  Pertama sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan.  Ini tergambar lewat tato utama, semacam kartu tanda penduduk.  Lalu sebagai status sosial dan profesi.  Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai, misalnya sikerei, pemburu binatang, atau orang awam.  Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan.  Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato melalui gambar-gambar yang indah.

 

the_mentawai_21artzfpncazgf8rycaqib9ztcax4sp0qca7j5680caa7cw7ocaj1965rcaos47ezcaix2wfpcajnuzsaca13014ucap8lwrhcaw7cz6lcaroin80catkkgzbcayv0iuicappxowvcasn0sccab05gogca3won0cca971n0ecat4mt6pca244lrbcaq0urbaca0gymdwcae5rtabcaavy214caefysjhca6e4t1rca8p95i2cacm95b0ca3ql6rycaogez13cabipu3ecasx45l2caesiqae

1 Comment

  1. Durga said,

    30 March 2009 at 7:43 am

    Turn into Sikerei with machines and hand tapping handily help them their tattoos is the best way !🙂


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: