Thou shall pass, too: Celebrating the life of Sri K.Pattabhi Jois

n32384907177_3290[1]

The beloved founder of Ashtanga Yoga, K. Pattabhi Jois (known affectionately as Guruji by his students), died at his home in Mysore, India on May 19, 2009. He was 93.

Known for his warm yet authoritative personality, Jois consistently emphasized the importance of repetition and devotion – he was fond of saying, ‘Practice and all is coming,’  He also stressed the importance of linking breath to each movement.  ‘Today, much of the breath-based, fluid, rhythmic yoga that is practiced in vinyasa classes in the West has been influenced, both directly and indirectly, by Jois’s teachings.

Born on July 26, 1915, near Hassan, Karnataka, in South India, Jois was a Brahman, the son of a priest, and had the privilege of learning from the Vedas and other ancient Hindu texts.  He was first inspired to study yoga when he was 12 years old, after seeing a yoga demonstration by T.Krishnamacharya, Jois became a student of Krishnamacharya, with whom he was to study for 25 years.

At age 14, Jois left his village for Mysore, where he wanted to study.  A few years later he was reunited with Krishnamacharya there, and the two continued their relationship.  Krishnamacharya found a patron in the majarajah of Mysore, Krishna Rajendra Wodeyar, who built a yoga shala (school).  Jois, who sometimes did yoga demonstrations for the majarajah, was invited to join the faculty at Maharaja Sanskrit College in 1937, where he taught and served as the head of the yoga department until 1973.

In 1948, Jois started the Ashtanga Yoga Research Institute in Mysore, now the Ashtanga Yoga Institute, which he oversaw for 50 years.  The first Westerner to study with Jois was a Belgian named Andre Van Lysebeth.  In 1967, Van Lysebeth wrote J’apprends le Yoga (Yoga Self-Taught), and soon after, other Westerners began arriving in Mysore to study with the master.  In 1975, David Williams and Nancy Gilgoff sponsored Jois’s first trip to U.S. Jois taught several people who are still leaders in the Ashtanga tradition in the West, such as Tim Miller and David Swenson.

Jois married at 21.  He and his wife, Savitramma, had three children, Saraswathi, Manju and Ramesh.  Saraswati is the mother of Sarath, co-director of the institute.

Jois’s Yoga Mala was published in 1962 and translated in English in 1999.  And he continued to transmit the teachings he learned from T.Krishnamacharya.  Many of today’s great American teachers, including Nicki Doane, Maty Ezraty, Richard Freeman, Kino MacGregor, Chuck Miller and Eddie Modestini traveled to Mysore to study with Jois.  His work will live on in the hearts and minds of the countless students and teachers whose lives he has touched.

picture-23[1]

By Diane Anderson, Yoga Journal August, 2009.

Es Durian Padang..ambo enaknya!

Jam masih menunjukkan sekitar 10.30 pagi di Padang.  Meeting di Universitas Andalas sudah selesai, kunjungan ke kantor sudah beres, matahari sudah mulai tinggi.. teman-teman cabang Padang mengajak kami mencicipi es durian yang paling nge-top di daerah Pondok.  Ternyata sepanjang jalan ada beberapa kedai es durian, tetapi yang dipilih adalah kedai Iko Gantinyo.

03062009189

Uni (penjaga kedai) langsung menyiapkan 4 mangkuk.  Begitu dihidangkan, wao.. begitulah komentar pertama.  Semangkuk es durian itu berisi potongan cincao hitam, suwiran daging kelapa yang sepertinya sih sudah tidak muda lagi, ditambah es serut, dan diatasnya disiram durian yang sudah berbentuk cair seperti krim dan ditutup dengan susu kental coklat.  Makanlah saya dengan penuh hikmat dan sedikit demi sedikit, karena terasa benar duriannya dan uenaknya.. Ruar biasa! 

Disetiap meja juga sudah disiapkan air putih dan gelasnya, untuk mengantisipasi reaksi durian yang lumayan nendang rasanya.  Selain es durian, resto Iko juga menyediakan makanan pendamping seperti mpek-mpek, sate Padang, gado-gado, serta es krim dan es krim durian.

03062009190

Sepulang dari makan es, belum puas rasanya kalau belum beli buah tangan atau oleh-oleh buat teman dan orang terkasih dirumah, maka kita mencari penjual keripik singkong balado.  Memang merek yang cukup terkenal dan satu-satunya yang memasang billboard raksasa di jalan menuju bandara adalah Christine Hakim.  Tetapi menurut teman-teman di Padang, singkongnya lumayan keras.  Mereka merekomendasikan Nan Salero di jalan Niaga.

0306200919203062009191

Toko Nan Salero berada di tengah Chinatown dan berada di sela-sela toko keripik singkong dan oleh-oleh Padang lainnya.  Di papan namanya tertera bahwa toko ini dahulunya adalah Tukang Gigi.  Dimana sambungannya ya? Mereka menjual aneka panganan dari singkong dan juga cemilan-cemilan lain yang relatif umum didapat di Jakarta.  Setelah dicoba, memang kripik singkong ini lebih renyah dibanding buatan Christine. Jadilah pemborongan terjadi ditempat. 

Kami langsung dilarikan ke bandara Minangkabau.  Matahari sudah tepat di ubun-ubun.. Garudaku sudah menanti, ke Jakarta kami terbang kembali.

Coffee Culture 4: Kopitiam Oey

Ga maar na Kopitiam Oey proberen.. Echt heerlijk, hoor!

Mencari tempat ngopi beserta kudapannya yang punya karakter unik nan jadul, relatif jarang di Jakarta.  Paling mirip dan menyenangkan selama ini adalah Bakoel Koffie di Cikini Raya.  Namun belakangan sudah ada tempat alternatif lain namanya Kopitiam Oey di jalan Haji Agoes Salim (dahulu jalan Sabang) nomor 18.  Pemiliknya sudah tidak asing lagi yaitu mas MakNyus alias mas Bondan Winarno, yang berkongsi dengan putrinya, Gwen.

kopitiam[1]

Tempatnya kecil mungil, bernuansa Cina Baba/Peranakan berasal dari Betawi dan sekitarnya, muat sekitar 10-12 meja kecil, dengan open-kitchen dan coffee-machine free…Menunya terbagi menjadi 3, yaitu makan pagi, siang dan malam.  Kalau mengharapkan full range nonya food mungkin jangan, karena dari namanya sudah jelas artinya coffee house atau warung kopi dalam bahasa Hokkien.  Sesuai nama, maka jam buka kedai ini Senin-Jumat dari jam 7pagi sampai 9 malam, Sabtu-Minggu mulai jam 8 pagi sampai 10 malam.

Lalu dari mana nama Oey didapat?  Konon kabarnya kalau diterjemahkan ke bahasa Hokkien, Winarno itu berarti Oey. Nggak percaya? Sudahlah.. terima saja.. nanti keburu lapar lho kalau berdebat yang satu ini.

Konsep dan misinya Mas Bondan untuk kedai ini tidak lain adalah untuk membangkitkan wisata kuliner tanah air lewat warung kopi, juga keinginan untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda serta yang mampu mengenang masa lampau.

Mengintip menunya, tentu saja penekanan pada minuman, tepatnya minuman kopi.    Selain kopi tubruk Jawa, kopi Aceh dan Bukittinggi ditawarkan juga kopi dari Vietnam..  Semuanya dibuat dan diramu secara manual, tanpa coffee machine. Juga aneka minuman dingin, seperti apple fizz dan lemon kiet soda.  Yang terakhir ini yang kami pesan.  Menurut saya, agak terlalu manis karena menggunakan Sprite, mungkin lebih enak menggunakan Soda Water, sambil ditingkahi manisan jeruk kikit dan bisa ditambah manisan plum kering. 

Kalau dari makanan, kudapan ’standar’ adalah aneka roti bakar, diselingi panini berdaging ham, aneka nasi goreng (pilihan kami malam itu adalah nasi goreng pete.. hmm.. terasa benar bumbu terasinya!).. ditambah menu ‘langka’ seperti Bubur ayam Benteng, sego ireng, roti talua Bukittinggi, Gado-gado BonBin, Sate Ayam Ponorogo, juga lunpia udang GunSan (Gunung Sahari). 

kopitiambsr[1]

Malam itu diakhiri dengan bon sebesar Rp54ribu untuk berdua… dan rekomendasinya:  Boleh lah mampir lagi sambil icip-icip menu lain (yang vegetarian tentunya buat saya).  Mungkin lebih cocok juga hadir untuk makan siang, karena range menu lebih banyak pilihannya.

Kopitiam Oey

Jalan Haji Agoes Salim (Jl Sabang) 18

Jakarta Pusat

Telfon 021 3924475