Thou shall pass, too: Celebrating the life of Sri K.Pattabhi Jois

n32384907177_3290[1]

The beloved founder of Ashtanga Yoga, K. Pattabhi Jois (known affectionately as Guruji by his students), died at his home in Mysore, India on May 19, 2009. He was 93.

Known for his warm yet authoritative personality, Jois consistently emphasized the importance of repetition and devotion – he was fond of saying, ‘Practice and all is coming,’  He also stressed the importance of linking breath to each movement.  ‘Today, much of the breath-based, fluid, rhythmic yoga that is practiced in vinyasa classes in the West has been influenced, both directly and indirectly, by Jois’s teachings.

Born on July 26, 1915, near Hassan, Karnataka, in South India, Jois was a Brahman, the son of a priest, and had the privilege of learning from the Vedas and other ancient Hindu texts.  He was first inspired to study yoga when he was 12 years old, after seeing a yoga demonstration by T.Krishnamacharya, Jois became a student of Krishnamacharya, with whom he was to study for 25 years.

At age 14, Jois left his village for Mysore, where he wanted to study.  A few years later he was reunited with Krishnamacharya there, and the two continued their relationship.  Krishnamacharya found a patron in the majarajah of Mysore, Krishna Rajendra Wodeyar, who built a yoga shala (school).  Jois, who sometimes did yoga demonstrations for the majarajah, was invited to join the faculty at Maharaja Sanskrit College in 1937, where he taught and served as the head of the yoga department until 1973.

In 1948, Jois started the Ashtanga Yoga Research Institute in Mysore, now the Ashtanga Yoga Institute, which he oversaw for 50 years.  The first Westerner to study with Jois was a Belgian named Andre Van Lysebeth.  In 1967, Van Lysebeth wrote J’apprends le Yoga (Yoga Self-Taught), and soon after, other Westerners began arriving in Mysore to study with the master.  In 1975, David Williams and Nancy Gilgoff sponsored Jois’s first trip to U.S. Jois taught several people who are still leaders in the Ashtanga tradition in the West, such as Tim Miller and David Swenson.

Jois married at 21.  He and his wife, Savitramma, had three children, Saraswathi, Manju and Ramesh.  Saraswati is the mother of Sarath, co-director of the institute.

Jois’s Yoga Mala was published in 1962 and translated in English in 1999.  And he continued to transmit the teachings he learned from T.Krishnamacharya.  Many of today’s great American teachers, including Nicki Doane, Maty Ezraty, Richard Freeman, Kino MacGregor, Chuck Miller and Eddie Modestini traveled to Mysore to study with Jois.  His work will live on in the hearts and minds of the countless students and teachers whose lives he has touched.

picture-23[1]

By Diane Anderson, Yoga Journal August, 2009.

Es Durian Padang..ambo enaknya!

Jam masih menunjukkan sekitar 10.30 pagi di Padang.  Meeting di Universitas Andalas sudah selesai, kunjungan ke kantor sudah beres, matahari sudah mulai tinggi.. teman-teman cabang Padang mengajak kami mencicipi es durian yang paling nge-top di daerah Pondok.  Ternyata sepanjang jalan ada beberapa kedai es durian, tetapi yang dipilih adalah kedai Iko Gantinyo.

03062009189

Uni (penjaga kedai) langsung menyiapkan 4 mangkuk.  Begitu dihidangkan, wao.. begitulah komentar pertama.  Semangkuk es durian itu berisi potongan cincao hitam, suwiran daging kelapa yang sepertinya sih sudah tidak muda lagi, ditambah es serut, dan diatasnya disiram durian yang sudah berbentuk cair seperti krim dan ditutup dengan susu kental coklat.  Makanlah saya dengan penuh hikmat dan sedikit demi sedikit, karena terasa benar duriannya dan uenaknya.. Ruar biasa! 

Disetiap meja juga sudah disiapkan air putih dan gelasnya, untuk mengantisipasi reaksi durian yang lumayan nendang rasanya.  Selain es durian, resto Iko juga menyediakan makanan pendamping seperti mpek-mpek, sate Padang, gado-gado, serta es krim dan es krim durian.

03062009190

Sepulang dari makan es, belum puas rasanya kalau belum beli buah tangan atau oleh-oleh buat teman dan orang terkasih dirumah, maka kita mencari penjual keripik singkong balado.  Memang merek yang cukup terkenal dan satu-satunya yang memasang billboard raksasa di jalan menuju bandara adalah Christine Hakim.  Tetapi menurut teman-teman di Padang, singkongnya lumayan keras.  Mereka merekomendasikan Nan Salero di jalan Niaga.

0306200919203062009191

Toko Nan Salero berada di tengah Chinatown dan berada di sela-sela toko keripik singkong dan oleh-oleh Padang lainnya.  Di papan namanya tertera bahwa toko ini dahulunya adalah Tukang Gigi.  Dimana sambungannya ya? Mereka menjual aneka panganan dari singkong dan juga cemilan-cemilan lain yang relatif umum didapat di Jakarta.  Setelah dicoba, memang kripik singkong ini lebih renyah dibanding buatan Christine. Jadilah pemborongan terjadi ditempat. 

Kami langsung dilarikan ke bandara Minangkabau.  Matahari sudah tepat di ubun-ubun.. Garudaku sudah menanti, ke Jakarta kami terbang kembali.

Coffee Culture 4: Kopitiam Oey

Ga maar na Kopitiam Oey proberen.. Echt heerlijk, hoor!

Mencari tempat ngopi beserta kudapannya yang punya karakter unik nan jadul, relatif jarang di Jakarta.  Paling mirip dan menyenangkan selama ini adalah Bakoel Koffie di Cikini Raya.  Namun belakangan sudah ada tempat alternatif lain namanya Kopitiam Oey di jalan Haji Agoes Salim (dahulu jalan Sabang) nomor 18.  Pemiliknya sudah tidak asing lagi yaitu mas MakNyus alias mas Bondan Winarno, yang berkongsi dengan putrinya, Gwen.

kopitiam[1]

Tempatnya kecil mungil, bernuansa Cina Baba/Peranakan berasal dari Betawi dan sekitarnya, muat sekitar 10-12 meja kecil, dengan open-kitchen dan coffee-machine free…Menunya terbagi menjadi 3, yaitu makan pagi, siang dan malam.  Kalau mengharapkan full range nonya food mungkin jangan, karena dari namanya sudah jelas artinya coffee house atau warung kopi dalam bahasa Hokkien.  Sesuai nama, maka jam buka kedai ini Senin-Jumat dari jam 7pagi sampai 9 malam, Sabtu-Minggu mulai jam 8 pagi sampai 10 malam.

Lalu dari mana nama Oey didapat?  Konon kabarnya kalau diterjemahkan ke bahasa Hokkien, Winarno itu berarti Oey. Nggak percaya? Sudahlah.. terima saja.. nanti keburu lapar lho kalau berdebat yang satu ini.

Konsep dan misinya Mas Bondan untuk kedai ini tidak lain adalah untuk membangkitkan wisata kuliner tanah air lewat warung kopi, juga keinginan untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda serta yang mampu mengenang masa lampau.

Mengintip menunya, tentu saja penekanan pada minuman, tepatnya minuman kopi.    Selain kopi tubruk Jawa, kopi Aceh dan Bukittinggi ditawarkan juga kopi dari Vietnam..  Semuanya dibuat dan diramu secara manual, tanpa coffee machine. Juga aneka minuman dingin, seperti apple fizz dan lemon kiet soda.  Yang terakhir ini yang kami pesan.  Menurut saya, agak terlalu manis karena menggunakan Sprite, mungkin lebih enak menggunakan Soda Water, sambil ditingkahi manisan jeruk kikit dan bisa ditambah manisan plum kering. 

Kalau dari makanan, kudapan ’standar’ adalah aneka roti bakar, diselingi panini berdaging ham, aneka nasi goreng (pilihan kami malam itu adalah nasi goreng pete.. hmm.. terasa benar bumbu terasinya!).. ditambah menu ‘langka’ seperti Bubur ayam Benteng, sego ireng, roti talua Bukittinggi, Gado-gado BonBin, Sate Ayam Ponorogo, juga lunpia udang GunSan (Gunung Sahari). 

kopitiambsr[1]

Malam itu diakhiri dengan bon sebesar Rp54ribu untuk berdua… dan rekomendasinya:  Boleh lah mampir lagi sambil icip-icip menu lain (yang vegetarian tentunya buat saya).  Mungkin lebih cocok juga hadir untuk makan siang, karena range menu lebih banyak pilihannya.

Kopitiam Oey

Jalan Haji Agoes Salim (Jl Sabang) 18

Jakarta Pusat

Telfon 021 3924475

A Yummy Cool Treat

I cannot drink milk for I am lactose intolerant.  I still cannot acquire the taste of soya milk, especially not in my coffee.  It will just ruin my day! But I love yogurt and I can deal with it in any form: fluid, firm, plain or eaten with various dishes. 

Adults who are lactose intolerant find that they are able to eat yogurt, since the bacteria that turns the milk to yogurt produces some of the enzymes required to digest the lactose.

According to a reading in the last edition of Yoga Journal, yogurt is an all-around tonic, capable of curing many ills, and generally considered to be an effective agent of balance for a person’s digestive system.

For the local product sold in the local supermarket, I would go for BioKul and Yummy – the ones which are plain, set firm one.  I find Chimori is too sweet. 

Here are some of my favourite mix and recipe:

FRUITOYOGO

AEQ3JNLCAP20RXDCAL8R9BUCAWNRO5KCAD37K9MCA0QT7BDCADHDPU6CAYVSMQ2CACJQOYMCAVIHXPYCABOYLDKCA1JQ4B7CAJBOOG9CA4CK9F8CAA2XW7MCA9RMWCLCA9HCSJICAD6OW6M

Makes 1 bowl for breakfast

Slice and dice:

Papaya, kiwi fruit, strawberry, passion fruit, dried sultana, dried almond.

Put 3-4 tablespoons of plain yogurt and add a dollop of honey to taste.

Mix all ingredients for a very filling breakfast.

CUCUMBER MINT RAITA

images[7]

Makes about 3 cups

A cooling accompaniment to spicy Indian meals or a tasty dip for flatbreads/pita bread.

2 cups plain yogurt

½ cup peeled, seeded and grated cucumber

3 tablespoons minced fresh mint

1 teaspoon ground coriander

Gently stir all the ingredients in a bowl until well mixed.  Serve chilled.

For Strength and Stability: Half Moon Pose (Ardha Chandrasana)

 

AUCP3YPCAX18CTYCALCM0L3CAWIYNOTCA4Q4R5UCAY05IF9CAB5IK2ZCA29KR97CA0Q4S2ZCA4XCCPTCA9ORCR8CAI8EU7RCAVGF66HCAJYJGD5CARIP12SCA03UB11CA9245FCCAFR2AH4

Benefits:

  • Strengthens the abdomen, ankles, thighs, buttocks and spine
  • Stretches the groins, hamstrings and calves, shoulders, chest and spine
  • Improves coordination and sense of balance
  • Helps relieve stress
  • Improves digestion.

Java Bleu: Resto Perancis Berlogo Semar Biru

Kemeriahan kudapan di daerah Cikini tiada habis-habisnya.. dari yang edisi lawas dan penuh rasa nostalgia, sampai dengan yang melanglang buana nun jauh ke negeri Menara Eiffel, alias Perancis.  

Banyak sudah resto Perancis bermunculan dan bertahan di Jakarta, mulai dari kelas elit macam Emilie atau Cassis, atau yang ‘homey’ bernuansa French countryside seperti Boka Buka di Cipete dan Java Bleu.  Nah yang terakhir inilah yang memeriahkan dunia kulinari di Cikini.  Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata ini adalah gerai mereka yang kedua di Jakarta.  Yang pertama sudah dibuka di akhir 2007 di kawasan Fatmawati [Lihat tulisan dibawah ini]

Dari sang resto Manager, Michael, didapatkan konsep bahwa resto ini ingin mempertahankan keaslian menu lokal/klasik Perancis dalam nuansa country, dengan bahan/materi makanan pilihan.  

Kami datang di awal waktu makan malam.  Kapasitas pada saat ini adalah sekitar 30-50 tempat duduk.  Dibagi menjadi area bebas rokok (di bagian dalam dan ber-AC tentunya), dan area merokok, dipisahkan oleh pintu orisinal dari bangunan Belanda yang berderet di ruko Cikini, dihias jendela/tralis khas rumah Belanda.  

Menu makanan dibuat dalam format papan tulis beroda yang secara teratur diganti berkala.  Bagi kaum vegan macam saya, menu yang ada cukup bervariasi dan para pramusaji atau sang Chef sendiri cukup tanggap apabila menu minta dibuatkan versi vegetarian.  Kami memesan vegetarian mushroom macaroni cheese dan pork sausage untuk saya dan partnerku, ditambah 2 buah gelas Ballon Wine jenis Chardonnay dan Red.  Sambil menunggu pesanan datang, Michael datang untuk memperkenalkan Chef Daisy. 

Tidak lama berselang pesanan datang.. hmmm efisien dan relatif besar porsinya.  Sajian vegetarian mushroom macaroni cheese porsinya cukup besar ditambah dengan semangkuk garden salad sebagai side dish.  Agak surprise dengan penggunaan pene pasta sebagai bahan dasar, meskipun rasa kombinasi antara butter dan cream terasa pas sekali.  Pork Sausage disajikan dengan mustard, semacam sauerkraut dan sejumput salad.  Menurut partnerku sih rasanya enak, dan yang pasti, home-made.. bukan sosis jadi yang di beli di supermarket.

Rasa Ballon Wine menurut saya relatif standar.  Saya lebih pas dengan Australian Chardonnay (blink, blink.. subyektif sekali sih!).  Michael menjelaskan bahwa mereka mempunyai cukup variasi wine cellar dengan kisaran harga antara Rp300-500ribu per botol.  Sedangkan untuk BYO (Bring Your Own) atau corkage pembukaan botol dikenakan biaya Rp80ribu per botol.  Dengan porsi, rasa dan ambience yang ada, tagihan sebesar Rp247ribu terasa cukup pantas.  

Kami meninggalkan Java Bleu dengan hati gembira dan perut kenyang, sambil berpapasan dengan para pengunjung yang mulai berdatangan untuk makan malam.

Java Bleu Restaurant

Jalan Cikini Raya 15

Jakarta 10330

Ph : 021 3193552

Sacre bleu!’ A French favorite reopens on Fatmawati

The Jakarta Post, 21 October 2007

Aman Khan, Jakarta

The latest whisper around town is that Java Bleu is back. Having closed its doors a few years ago so Chef Antoine Audran could focus on other ventures, the French-style restaurant is open once again due to popular demand.

Java Bleu serves food that is meant to be shared. It doesn’t offer fine dining with linen tablecloths, chandeliers and white-gloved waiters. Quite the opposite, in fact. Java Bleu presents simple cuisine inspired by the French countryside.

Chef Antoine has lived in Jakarta for many years. He kicked off his career at the Culinary School Ferrandi in Paris and worked his way up over the years. He worked in Michelin restaurants in France, as well as in England, Switzerland, Africa, the Middle East and Asia, before settling down in Indonesia.

Java Bleu is not for everybody — those on strict diets had better stay at home. Expect to be filled to the brim at this homey establishment.

There is no menu in sight at Java Bleu. Rather than wasting time agonizing over pages of choices, a simple chalkboard listing fewer than 10 items is on display.

It’s a hole-in-the-wall establishment typifying the sort of food I like — organic, natural ingredients, and no fussy cooking or presentation.

What you will appreciate about Java Bleu is the lack of pretension — the food actually looks like food and not a plate decoration. The food at Java Bleu will give you a source of hearty contentment.

There’s a delightful pan-seared foie gras — simple, pure and classical. The mushroom soup, with a clean yet powerful flavor, keeps the cream in the background, allowing the taste of the chanterelle to come through.

The quiche forestiere is cheesy, with mushrooms and a luxurious soft middle to enjoy. It’s a heavy dish with good flavor. The sausages are juicy and delicious. The lamb chops are served medium, flawless in their simplicity.

There’s even horse on the menu, which, while not to my taste, will be appreciated by those who enjoy the gamey aftertaste.

Chef Antoine explained to me the background to his cooking style and love of heritage.

“”In France, food is culture, a part of the national heritage that is revered and developed. We do not eat merely to feed our bellies,”" he says.

“”We do like to combine pleasure with it as well. It’s difficult to explain as it is deeply rooted in our basic education and way of life. Perhaps a genetic touch?”"

Are we what we eat?

“”People tend to lose their personality and become blander nowadays. Food speaks for itself. Look how many people are staying alive on instant noodles and fast food. It shows people do not take an interest in the taste of food but merely adjust their food habits to their wallet contents as well as the time spent in cooking or eating.

“”One of the main issues I would like to raise is the loss of the family core as well as the gastronomic family culture. People are simply losing their basic food knowledge. Losing at the same time what remains of their valuable culinary heritage.”"

Chef Antoine is in love with food and his attitude and commitment is reflected in the dishes he serves. Java Bleu remains an unchanging gem in a city of nondescript restaurants.

With your first bite at Java Bleu, you know that you are in for a comforting time. These are the true and tested flavors of the French countryside. The sedate surroundings of the place leave you to focus on the meal itself. Chef Antoine keeps things at an enjoyable and hearty pitch right to the very last bite.

The portions are enormous and it makes much more sense to come in a group. A minimum of five to six people would do the experience justice. Order a few appetizers and main courses and get stuck in! That’s the way to eat at Java Bleu. ***

* Average
** Good
*** Excellent
**** Extraordinary

Java Bleu
Kompleks Golden Plaza
Jalan Fatmawati No : 15
Blok E 24
Jakarta Selatan
Tel: (021) 7507902
Open Tuesday to Sunday
from 7 p.m. till 9 p.m.

Tato Mentawai Akan Tinggal Kenangan

PadangKini.com

15 Juni 2008

Urlik Tatubeket, lelaki Mentawai berusia 46 tahun asal Pulau Sipora, terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Ada Peduli Mentawai (AMA-PM) dalam Kongres Masyarakat Adat Mentawai, di Tuapejat, Sipora, dua tahun lalu.

Sebagai ketua sebuah organisasi yang mengatasnama masyarakat adapt, Urlik terkesan jauh dari sosok seorang Mentawai yang dikenal melalui foto-foto selama ini.  Begitu juga dengan 265 peserta kongres, sebagian besar laki-laki, yang datang dari berbagai pelosok kampung di Kepulauan Mentawai.

Urlik dan mereka tak satupun yang memiliki tato penghias tubuh sebagai seorang Mentawai.  Padahal tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi’ adalah bagian dari kebudayaan Mentawai yang penting.  SEtidaknya, ini telah bisa membuktikan bahwa tradisi tato sudah mulai ditinggalkan oleh orang Mentawai.

‘Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali dibeberapa kampung pedalaman di Siberut yang masih ada hingga kini, ‘kata Ulrik.

Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan adalah tiga pulau, dimana orang Mentawai yang berdiam disana tak lagi menato dirinya sejak 1950-an.  Menurut Urlik, di Pulau Sipora yang orang Mentawainya kini sekitar 8,000 jiwa, yang masih memiliki tato tak lebih dari 10 orang.  Tiga laki-laki dan selebihnya perempuan.  Usia mereka diatas 70 tahun.  Hal yang sama juga terjadi di Pagai.  Meski dihuni lebih 11,000 orang Mentawai, yang masih memiliki tato juga tak lebih dari 10 orang.  Mereka juga berumur diatas 70 tahun.

‘Bisa dipastikan, dalam 20 tahun ke depan tidak akan ada lagi orang Mentawai Sipora dan Pagai yang memiliki tato di tubuhnya,’ katanya.  Ada beberapa penyebab, menurut Urlik, kenapa tato hilang di Sipora dan Pagai.  Pertama, ajaran agama yang melarang kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan kepada roh-roh, dan menganggap tato bagian dari kepercayaan itu.

Kedua, upacara membuat tato diawali dengan rangkaian upacara lain yang lama (paling cepat enam bulan) dan banyak pantangan (larangan).  Upacara ini disebut ‘punen’.  Karena itu banyak orang Mentawai yang tidak ingin menjalankannya karena sangat berat.

Ketiga, ada rasa malu bagi orang Mentawai, terutama yang bersekolah ke luar daerah untuk menato dirinya, karena dianggap orang lain sebagai lambing keterbelakangan dan primitive.  Kelompok orang Mentawai modern ini merasa lega terlepas dari budaya Arat Sabulungan.

Malu karena tidak ‘Bulepak’

Protestan yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan lama orang Mentawai disbanding Katolik yang masuk sejak 1955 dan Islam sejak 1952.  Karena itu, Sipora dan Pagai yang mayoritas memeluk agama Protestan lebih cepat hilang kebudayaannya, termasuk tradisi tato.

‘Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta,’ kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Sipora.  Untuk bisa menato diri, suatu suku di Sipora harus melakukan ‘punen’ yang paling cepat menghabiskan waktu enam bulan.  Punen dimulai dengan mendirikan uma (rumah ada khas Mentawai) dengan memotong sejumlah babi dan mengikuti berbagai pantangan.  Di antaranya tidak boleh melakukan [hubungan] seks dengan istri, tidak boleh memandang wanita, tidak boleh makan dan minum sebelum acara makan dan minum bersama, dan sebagainya.

‘Acara puncak punen adalah dengan melakukan perjalanan ke Pulau Siberut sebagai asal orang Mentawai, acara itu disebut ‘Bulepak’, ke sana naik sampan sampai 40 orang.  Jika sudah kembali dengan selamat menempuh ombak yang besar dari Siberut dengan membawa manik-manik khas Siberut, maka semua warga suku sudah boleh menato diri,’ kata Urlik.  Upacara seperti inilah yang berat dilakukan orang Sipora.  Menurut Urlik, acara ‘Bulepak’ terakhir yang dilakukan orang Sipora pada 1950-an.  Setelah itu tidak ada lagi orang Mentawai di Sipora yang melakukan itu.  Akibatnya, mereka tidak berani menato diri, karena syaratnya tidak ada.  ‘Mereka malu menato diri karena tidak pernah ‘bulepak’, setelah itu tak ada lagi orang Sipora yang bertato, hal yang sama juga terjadi di Pagai; katanya.

Ditato itu Sakit

Di Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai dan merupakan pusat dan asal kebudayaan Mentawai, masih ada sejumlah kampung pedalaman yang masih menggunakan tato.  Dikampung-kampung di Sarereiket, Ugai, Matotonan, Simatalu, Sakudei dan Dimalegi penduduknya masih memakai tato.

 Meski di beberapa kampung para pemuda dan gadis yang mulai dewasa tetap ditato tubuhnya, namun yang meninggalkan tradisi tato jauh lebih banyak.  Umumnya mereka yang sudah berinteraksi dengan dunia modern, seperti melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA yang hanya terletak di ibukota kecamatan atau ke Padang.  ‘Umumnya kampung-kampung yang tradisi tatonya masih ada adalah yang menganut Katolik, sebab Katolik lebih longgar dan tidak sekeras Protestan melarang mereka, tetapi anak-anak muda yang bersekolah tak lagi mau ditato,’ kata Urlik.

Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Mentawai, seiring dengan pengaruh dunia luar.  Jika dulu orang yang bertato dianggap lambang orang yang sehat dan kuat di Mentawai, kini anggapan itu telah beralih sebagai orang terbelakang.  ‘Ditato itu sakit dan lagian lambing primitive,’ kata Gerson Saleleubaja, 24 tahun, pemuda asal Maileppet, Siberut Selatan, yang kini menjadi jurnalis di Tabloid Puailggoubat, sebuah Koran lokal di Mentawai.

Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia, Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Padang, menyimpulkan bahwa tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia.  Sayang, belum banyak yang meneliti jenis dan makna tato di Mentawai.  Ady Rosa sendiri baru meneliti penggunaan tato pada orang Mentawai di sejumlah kampung di Siberut dan belum meneliti di Sipora dan Pagai.  Padahal, menurut Urlik, tato Sipora dan Pagai memiliki perbedaan tertentu dari tato Siberut.  Misalnya, di Sipora ada tato tiga garis lengkung di pipi dan satu garis lurus dari dagu hingga leher.  Tato-tato ini belum diteliti dan akan segera hilang karena pemakainya yang sudah uzur.

160 motif Tato

Tato oleh orang Mentawai tak hanya berfungsi untuk keindahan tubuh, tetapi juga lambang yang menunjukkan posisi atau derajat orang yang memakainya.  Ady Rosa, peneliti tato menyimpulkan, seni tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi’ mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang antara 1500 sampai 500 sebelum Masehi.  Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson. ‘Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300SM, jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai,’katanya.

Ady Rosa dalam laporan hasil penelitiannya berjudul ‘Fungsi dan Makna Tato Mentawai’ (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai.  Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang tergambar lewat tato utama.  Ini semacam kartu tanda penduduk (KTP).  Kedua, sebagai status sosial dan profesi.  Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai.  Misalnya sikerei (tabib dan dukun), pemburu binatang, atau orang awam.  Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan.  Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato (disebut ‘sipatiti’) melalui gambar-gambar yang indah.

Menurut Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut.  Masing-masing berbeda satu sama lain.  Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.

Pembuatan tato sendiri melewati proses ritual, karena bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan (kepercayaan kepada roh-roh).  Bahan-bahan dan alat yang digunakan didapat dari alam sekitarnya.  Hanya jarum yang digunakan untuk perajah yang merupakan besi dari luar.  Sebelum ada jarum, alat pentatoan yang dipakai adalah sejenis kayu karai, tumbuhan asli Mentawai, yang bagian ujungnya diruncingkan.

Sipatiti (pembuat tato)adalah seorang lelaki dan tidak boleh perempuan.  Sebelum pembuatan tato harus diadakan ‘punen patiti’ (upacara pentatoan).  Upacara dipimpin oleh seorang sikerei.  Upacara yang dilakukan dengan menyembelih beberapa ekor babi ini harus dibiayai oleh orang yang ditato dan hanya dilakukan pada awal pentatoan. 

Menurut tato di Mentawai dilakukan tiga tahap. Tahap pertama pada saat seorang berusia 11-12 tahun, dilakukan pentatoan di pangkal lengan.  Tahap kedua usia 18-19 tahun dengan menato bagian paha.  Tahap ketiga setelah dewasa.  Proses pembuatan tato memakan waktu dan diulang-ulang.  Tentu saja menimbulkan rasa sakit dan bahkan menyebabkan demam.

Dua Nyonya: Lokal batiknya, Lokal rasanya

Jalan-jalan di Cikini Raya terasa makin meriah belakangan ini, karena ada beberapa tempat makan baru, selain mencicipi makanan yang klasik, tempo doeloe, seperti di posting-an yang sebelumnya.  Salah satunya adalah toko batik Dua Nyonya, milik Dana Iswara dan Dewi Mallarangeng.  Uniknya ibu-ibu ini menggabungkan cuci mata batik dengan café kecil menarik disebelahnya.  Atmosfir toko dibuat informal, tidak seperti layaknya datang ke butik kelas menengah keatas di mal. 

Batik yang ada disana berbagai rupa, lengkap dengan asesoris etnik dan lerak, sabun untuk merawat/mencuci batik.  Selain masih dalam berbentuk kain, banyak juga yang sudah menjadi rok, blus, kemeja pria.  Ada batik dari berbagai pelosok tanah air, tapi masih di dominasi dari Jawa/Madura, baik yang edisi baru maupun lawasan atau istilah kerennya ‘vintage’.  Baju-baju jadi di disain oleh ke dua nyonya, ada yang bergaya klasik maupun modern, disesuaikan dengan tren dan selera pasar.

Setelah puas melihat sana-sini, bisa jadi juga beli sana-sini… pengunjung dapat mampir ke cafe di bagian samping toko.  Biarpun kecil, dapat menampung sekitar 20-30an tamu.. menunya sederhana dengan rasa lokal dan harga lumayan terjangkau.  Makanan pembukanya bisa pilih tempe mendoan atau perkedel jagung.  Yang paling populer buat saya adalah koleksi nasi bakar.. pilihan saya nasi bakar ikan peda.  Hadir lengkap dengan tempe goreng, sambal, lalapan dan sejumput lodeh.  Mantap! 

Biarpun kecil, café ini berfasilitas wi-fi.. apalagi yang membuat kita betah berlama-lama di cafe, selain tentunya, teman ngobrol yang menarik…

 Berikut tulisan yang muncul di Tempo Interaktif di bulan Maret mengenai kedai baru di Cikini, yang ditulis oleh Bismo Agung (23 Maret 2009).

Dua Nyonya, Kedai kopi Dana Iswara & Nyonya Mallarangeng

image.tempointeraktif[1]

Bermula dari kegemaran wisata kuliner di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Dana Iswara akhirnya ikut membuka kedai kopi di daerah yang sama.  Kedai itu didirikan bersama sobatnya, Dewi Mallarangeng.  Namanya Dua Nyonya, sesuai dengan predikat mereka sebagai nyonya dari ekonom Chatib Basri dan politikus Rizal Mallarangeng.

Selain menjual kopi, kedai itu menjajakan batik dan perhiasan.  Pertengahan bulan ini kedai mereka sudah mulai beroperasi. ‘Batiknya berasal dari berbagai daerah di Nusantara,’ ujar bekas penyiar televise itu.  Dana dan Dewi ternyata sudah berbisnis batik sejak satu setengah tahun lalu.

Mereka mengaku tak hanya usaha, tapi ingin ikut mempercantik kawasan Cikini. ‘Daerah ini kan termasuk kawasan lama,’ kata Dana.  Dia mengharap pihak lain ikut memanfaatkan Cikini untuk tujuan konservasi. ‘Masih ada bangunan kosong tidak berfungsi.’ Bila tertata apik, niscaya kawasan itu makin asyik untuk lokasi jalan-jalan.’ Kalau capek, bisa rihat sambil ngopi,’ ujarnya.  Boleh juga, tapi apa Dua Nyonya ini ikut menemani?

My solitude, my quiet space and pace

images[10]

Reading through this article in the latest Yoga Journal edition resonates with some of my escapes when I need it a little or even, a big time out. I relate this with my practice of walking meditation as a reflection of quietness without physically being quiet.  I have been practicing walking meditation for a while.  First I experienced it as part of a week-end retreat in Nan Tien Temple in the south coast of Sydney, about one and a half hour drive.  

At that time, I was fortunate to be led by a group of monks for a late afternoon court-yard walking meditation in the middle of winter, before we ended up inside the temple.  It was about focusing on my pace, my space with one another, foremost with my breathing.  

Another event, was with the flock from JakartaDoYoga, when we were about to do yoga in the park, the Taman Surapati park, that was. It was quiet early, and every one who came to the studio was asked to be quiet and minimize our chitchat.  We departed from Jalan Sunda and walking in a quiet pace through the leafy Menteng area, for about 30 minutes.  It was a good warming up, too, before practicing yoga.  When I keep quiet, I see more and actually, enjoy more of what’s happening in the surrounding area we passed by – continue observing with minimal judgement

Alternatively, when walking is not possible, I would go for swimming,  lap swimming that is.  This one is even more structured in the movement, in the pace and space, especially in focusing the mind – all the right elements.  And most definitely, one can’t talk!  Here is the excerpt…

What would you be willing to give up if you knew it would immeasurably enrich your life? I gave up speech.  I was called to silence 16 years ago when, while walking the shores of a Cape Cod beach and nearly on a whim, I decided to set aside the following day and go without talking.  This step back from the noise and busyness of my day proved so instructive and restful, I wanted to repeat the experience.  Since then, on the first and third Mondays of every month, without exception, I have practiced silence for 24-hour periods.

That first day, when I’d told two friends about my decision to go a day without speech, both reacted with the same words: ‘How radical.’  Struck by the coincidence of their responses – after all, this was a day of non-speech, not a divorce or career change – I looked up ‘radical’ in the dictionary and learned that it comes from the Latin word radicalis, and means to go to the root of something.  I dismissed the notion, seriously doubting whether one day of silence could get to the root of anything.  But this simple act has altered my life and become my greatest teacher – testing, tempering, and healing me in ways I could not have foreseen when I began.  It offers me peace and solace in a world in which these qualities are hard to come by.

The stillness of these days creates space, allowing me to rest, to reflect rather than react, and to think about what matters.  Silent time has fostered a better connection to nature, and to myself and others.  In quiet, I am more attentive to ordinary moments and thus am open to the extraordinary.

Silence has formed a foundation for me by providing the time and fertile space in which to reflect on the kind of life I want to have and the center from which to live it.  It has indeed proved to be the quietest of revolutions.  It has taught me to listen, and in listening, I hear my life’s song.

images[2]

Speechless – experience the restorative poser of silence in these simple ways:

  • Invite your family to join you in eating a meal in silence.
  • Commit to a day without speech.  Prepare family and friends ahead of time so they know what to expect.
  • Find a labyrinth and walk it in silence.
  • Spend a few quiet hours alone in nature.
  • Take a one-day sabbatical from email, phones, radio and TV.
  • For one day, perform household or gardening chores in silence.

From:

The quietest revolution – what makes silence a radical act?

By Anne LeClaire

Yoga Journal June 2009

Epilogue to the Freak Show in Sydney

During the 3-day Sydney Tattoo and Body Arts Exhibition back in March 2009,  a number of publications interviewed Durga and one of them was Australian Ink.  For all the visitors of the exhibition, a teaser 10-pager of what would be the first Australian Tattoo, lifestyle and music magazine was given out. 

Vanessa Morgan, the editor, came by our booth and requesting for an interview time with Durga for the next day.  She brought with her the photographer from her magazine to take a couple of shots while he is doing his work.

The next day, right on time, Vanessa came and did the interviewed just outside the exhibition hall.  She promised to let us know when the magazine will be out, approximately mid May 2009.  Rightly so, it came out with a bang with Pink’s photo on the cover and a headline of Femme Fatale Issue. 

img029

In this issue, I found not only Durga was profiled, but a couple of my favorite tattoo artists and studio were there, too – such as Danniel DiMattia from Calypso Tattoo Studio in Belgium, as well as Megan Oliver (she did my first tattoo!) and the team of talented artists and owner of Inner Vision studio in Sydney.  Such an exciting edition!  So here we go…

 img030

 DURGA

Booth after booth was filled at the Sydney Tatoo and Body Art Expo, with artists from around the world displaying their own style and take on the art.  But in a small, almost hidden corner of the expo sat an artist entirely unlike any other.

Indonesian born Durga’s work evokes a tribal signature distinct to his own experience, with influences of folklore, legends and mythology from his native land.  He twists in a hint of the macabre and taboos from the diverse culture he grew up with.

 Having studied visual art at the Indonesian Institute of the Arts in Yogyakarta, Indonesia, he then journeyed to Germany to further his understanding of art and work as a graphic designer.  Soon after, he found himself in a one of the tattoo capitals of the world – Los Angeles.

‘The initial idea to be a tattooist happened in Germany,’ Durga says.  But it wasn’t for four years till his wish came true, taking up an apprenticeship at Black Wave Tatoo, on La Brea Avenue, LA.

Black Wave Studio is known for its tribal tattoos and Durga studied under Sua Sulu’ape Freewind, the current owner of the studio, who has made an obligation to preserve the ancient art from tatau.  Specializing in the art of archipelago Indonesia, his emphasis is on making each piece of work unique for individual clients.

Durga says that like many Asian countries, young people in Indonesia look to get western-styled tattoos as opposed to the tribal and traditional works.  However, he has seen a change recently, with more people looking to honour their culture and traditions.  With a rich tattoo history, tattooing was eliminated in Indonesia during the colonial era, prohibited by the Indonesian government.

Following his stint in LA, Durga returned to Indonesia, continuing to learn and taking up a traditional hand-tapping tattoo style with Dajak Borneo and Mentawai-Sumatera techniques.

 Currently set up in his home, he will open his studio in June 2009, taking plenty of care to ensure it is the right environment for his clients.

  img031

INNER VISION

Inner Vision is one of Sydney’s best-known and respected tattoo studios, opening its doors 14 years ago when owner, Cliffe Clayton, returned from touring the US and spending four years studying under the world-respected John ‘The Dutchman’ van ‘t Hullenaar in Vancouver, Canada.

 The shop started with a crew of one in the back streets of Surry Hills doing great custom Japanese tattooing at a time when few were doing it in Australia.  From there the reputation of the shop and artist line up grew into what it is now – a premier street/custom tattoo shop with five full-time artists and a regular crew of international guests making yearly visits.

Open seven days a week, the studio recently moved from its old terrace location to a spacious new shop across the road.  Studio manager and Australian Ink’s resident tattoo advisor, Kian Forreal says: ‘It was definitely the end of an era, bue the new shop at 251 Crown Street is four floors shop space with lots of natural light and room to move and be creative.  Everyone is super happy with the new shop.  We really needed more space.’

The studio caters for diverse clientele, open for walk-ins on the weekend and custom during the week.  ‘People will always travel for quality.  We get investment bankers, artists, mums, blue-collar workers, restaurateurs, musicians – pretty much the entire spectrum of people that want the best tattoo they can find.  We stand behind our work 100 per cent’ Kian says.

 With thousands of pre-dawn designs in both classic and contemporary styles, there is an extensive reference library for anyone looking for custom work.  Photographic portfolios of all current studio artists are available, with each of the artists capable in most styles, yet choosing to specialize in their own favourites for custom work.  The studio also has a rotating roster of guests that are good all-rounders as well as specialists. 

Ensuring the standards are met through a combination of highly artistic, skilled tattooists, great client communication and hospital-grade sterilization procedures, Inner Vision puts its success down to its employees.  Kian elaborates: ‘We are very discerning about who we hire and what we look for in potential artists. You must have a high regard for tattooing in general and a great portfolio to back it up.  We also prefer at least 10 years of shop experience.

« Previous entries Next Page » Next Page »